Panduan Menjaga Shalat di Tengah Musibah Banjir
- 05 Jan 2026 14:34 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Bencana banjir sering kali membawa dampak ke berbagai hal, mulai dari hilangnya tempat tinggal hingga terbatasnya akses untuk bersuci dan menjalankan ibadah. Dalam kondisi serba darurat seperti itu, bagaimana muslim menjaga kewajiban salatnya?
Tgk. Muhammad Sayuti, S.Hum yang merupakan Imam Masjid Baitussalihin Ulee Kareng sekaligus Imam Bangkok, Thailand, mengatakan pentingnya menjaga keteguhan salat di tengah ujian.
“Sesungguhnya Allah berfirman: Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Itu artinya salat merupakan cara ampuh meminta keringanan dalam ujian dan cobaan,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Jumat (12/12/2025).
Berikut ini beberapa prinsip kemudahan menjalankan ibadah dalam keterbatasan:
- Posisi Salat: Jika tidak sanggup berdiri, diperbolehkan salat sambil duduk. Jika duduk tidak sanggup, boleh sambil berbaring atau menggunakan isyarat hati.
- Bersuci di Tengah Kelangkaan Air: Jika air bersih sulit didapatkan atau akses ke air berbahaya karena arus yang deras, diperbolehkan dengan bertayamum menggunakan debu.
- Kondisi Pakaian: Salat tetap sah meskipun pakaian basah atau kotor terkena lumpur, dan tidak yakin najis pada pakaian tersebut. Dalam kondisi darurat, jika hanya ada satu pakaian yang bernajis, salat tetap wajib dilakukan dan tidak perlu diulang setelah keadaan normal.
- Ketentuan Jamak dan Qashar: Jamak (menggabungkan dua waktu salat)diperbolehkan, karena uzur hujan lebat atau kesulitan berat. Namun, qashar (meringkas jumlah rakat salat) tidak diperbolehkan, kecuali orang tersebut sedang dalam perjalanan jauh (musafir).