Dampak Fatal Bullying dan Kecanduan Gadget

  • 17 Des 2025 22:24 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Di era society 5.0, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, dibalik kemudahan digitalisasi, muncul tantangan besar bagi generasi muda. Banyak pelajar saat ini sangat mahir mengoperasikan perangkat digital, namun abai terhadap etika.

Salah satu hal yang muncul adalah maraknya kasus bullying atau perundungan yang semakin mengkhawatirkan, tidak terkecuali di Kota Banda Aceh. Bahkan korban bullying berpikir untuk mengakhiri hidupnya atau melarikan diri ke minuman keras dan terjerat narkoba.

"Di kota banda Aceh saja tinggi banget kasus bullying ini. Bahkan ada beberapa sekolah yang kami datangi, salah satunya SMP di Banda Aceh. Saking traumanya korban karena bullying ini, sampai dia ingin bunuh diri," ujar Rini Safitri, selaku Ketua I Bidang Kaderisasi PW PII Aceh, dalam dialog Bersama Pro 2 Banda Aceh, Rabu (19/11/2025).

Hal ini diperparah oleh lingkungan yang bungkam dan kurangnya support system yang sehat, sehingga korban bullying sering kali merasa terisolasi tanpa ada ruang aman untuk mencari perlindungan. Selain itu, konten-konten negative yang dikonsumsi oleh anak muda, seperti perilaku kekerasan dan caci maki di media social dipraktekkan langsung di dunia nyata.

Kecanduan teknologi pada anak sejak usia dini sering kali berakar dari pola asuh di rumah. Banyak orang tua memberikan gadget sebagai jalan pintas agar aanak tenang saat sedang tantrum. Padahal, resikonya abak kehilangan kemauan untuk mengelola emosi dan membangun kedekatan secara

Maka dari itu pentingya peran orang tua dalam membangun kedekatan emosional dan menghadirkan kegiatan positif tanpa perangkat elektronik agar anak tidak ketergantungan dengan gadget. Selain itu, arahkan anak untuk mengikuti kegiatan yang memanfaatkan teknologi untuk hal yang positif seperti membuat konten edukasi atau mengikuti pelatihan keterampilan digital.

Rekomendasi Berita