Peningkatan Intensitas Gempa, Apakah Pertanda Aktivitas Megathrust ?
- 13 Nov 2025 19:51 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Akhir-akhir ini intensitas gempa khususnya di daerah Aceh semakin sering dirasakan. Apakah ini ada kaitannya dengan aktivitas megathrust ?
Terkait aktivitas kegempaan beberapa bulan terakhir ini terjadi peningkatan yang signifikan, dimana dua bulan terakhir ini wilayah Aceh di guncang gempa lebih dari dua ratus gempa. Dibandingkan dengan tahun-tahun lalu, rekapannya dari tahun 2021-2024 kejadian gempa tercatat hingga seribu seratusan, namun di tahun 2025 ini hingga awal November tercatat sudah 1.319 kali gempa di wilayah Aceh, adapun peningkatan aktivitas gempa sangat berkolerasi dengan kejadian gempa signifikan yaitu gempa-gempa dengan magnitude lebih dari lima.
“Kejadian gempa signifikan ini biasa diikuti oleh gempa susulan dengan magnitude lima terutama terjadi di kerak bumi, apalagi terjadi di wilayah daratan dominan diikuti oleh gempa-gempa susulan, dari data kami juga terjadi peningkatan dan hal ini dipengaruhi oleh banyaknya gempa signifikan, sehingga sampai saat ini tercatat setidaknya 17 kali gempa dengan magnitude lima, lalu gempa dengan magnitude tiga hingga kurang dari lima sebanyak 360 kali dan gempa kurang dari magnitude tiga sebanyak 942 kali”, hal ini dikatakan oleh Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar Andi Azhar Rusdin, S.Si, M.Sc, dalam perbincangan bersama RRI, Senin (3/11/2025).
Zona megathrust ini adalah zona tumpukkan lempeng di kedalaman dangkal kurang dari 70 km. Megathrust artinya pertemuan dua lempeng besar dan bertabrakkan dan salah satu lempeng terdorong dibawah lempeng lainnya, hal ini dapat menyebabkan gempa bumi yang sangat kuat dengan magnitude delapan dan dapat juga berpotensi tsunami.
Fenomena gempa sebenarnya setiap hari terjadi, namun tidak semua gempa dapat dirasakan. “Gempa-gempa kecil ini sebenarnya patut di syukuri karena terjadi pelepasan energi di zona tumpukkan lempeng, energi tidak menumpuk, jika energi yang terkumpul dan tidak dikeluarkan maka akan memicu gempa-gempa signifkan”, tambahnya.
Adapun faktor yang dapat meningkatkan aktivitas megathrust yaitu:
· Dengan tekanan akumulatif dimana ketika tekanan ini melebihi ambang batas, gempa bumi pun akan terjadi.
· Interaksi antar lempeng. Hal ini dapat memicu atau mempercepat aktivitas megathrust.
· Perubahan geologis. Seperti erosi dan sedimentasi dapat mempengaruhi stabilitas subduksi.
Ketika gempa megathrust terjadi dapat menyebabkan kerusakan parah seperti, tsunami dimana gempa megathrust didasar laut dapat memicu tsunami dahsyat yang menghantam wilayah pesisir. Guncangan yang kuat dapat menyebabkan robohnya bangunan, jembatan serta infrstruktur lainnya, dan juga dapat memicu tanah longsor.
Selain itu menurut Dr. Ir. Abdullah, M.Sc, Senior Lecturer (Lektor Kepala) Jurusan Teknik Sipil USK Banda Aceh mengatakan, bahwa gempa patut menjadi perhatian yang lebih besar dbandingkan tsunami karena, keberadaan gempa sangat misteri atau abstrak, tetapi potensi akan terjadinya itu ada. Oleh karena itu kita tetap terus waspada terhadap gempa yang belum diketahui kapan terjadi, dimana lokasinya serta seberapa kekuatan gempa tersebut.
Melihat adanya kejadian-kejadian gempa dan prediksi yang belum seperti yang diharapkan. Mestinya kita tidak perlu menunggu adanya sinyal atau peringatan dari BMKG, hal ini menjadi perhatian gaya hidup kita yang selalu harus waspada terhadap bencana yang ada di sekitar kita seperti gempa, banjir, tsunami dan lainnya. “Yang paling penting menurut saya, adanya bangunan-bangunan publik yang bisa segera digunakan pada saat pengungsian dan ini sangat krusial untuk mengurangi kesulitan yang dihadapi oleh korban pasca suatu bencana”, tutup Abdullah.