Dampak Psikologis Korban Kekerasan, Bisa Depresi dan Trauma

  • 07 Nov 2025 14:29 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Ketua Balee Inong Meulur Kecamatan Ulee Kareng sekaligus Koordinator Preswil KPI Aceh, Yusriati, S.Pd.I, mengingatkan masyarakat untuk tidak menyalahkan korban kekerasan atau pelecehan seksual. Tindakan victim blaming atau menyalahkan korban justru memperburuk kondisi psikologis dan sosial mereka.

Dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (3/11/2025), Yusriati menjelaskan bahwa praktik victim blaming masih sering ditemui di lingkungan sosial masyarakat Aceh, misalnya ketika seseorang mengalami pelecehan di ruang publik.

“Saat ke pasar, misalnya dicolek atau diganggu, korban malah disalahkan. Dibilang karena pakaiannya atau caranya berjalan. Padahal korban tidak bersalah,” ujar Yusriati.

Ia menegaskan, sikap seperti itu bukan hanya menyakiti secara verbal, tetapi juga berdampak berat terhadap kesehatan mental korban. Dalam pendampingannya terhadap perempuan korban kekerasan, Yusriati menemukan banyak kasus di mana korban mengalami rasa bersalah, malu, hingga depresi akibat pandangan negatif dari lingkungan sekitar.

“Korban sering merasa mereka yang salah atas kejadian yang menimpa mereka. Akibatnya timbul rasa bersalah, malu, dan trauma yang berkepanjangan,” ungkapnya.

Menurutnya, victim blaming bisa memperburuk kondisi mental korban hingga menimbulkan kecemasan berat dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Proses pemulihan dari trauma pun memerlukan waktu yang lama dan dukungan dari lingkungan sekitar.

“Kalau sudah trauma berat, penyembuhannya butuh waktu panjang. Maka penting bagi kita untuk mendengarkan korban, bukan menyalahkan,” tegasnya.

Yusriati berharap masyarakat dapat membangun empati dan memahami bahwa korban kekerasan membutuhkan dukungan moral, bukan penghakiman. Ia menambahkan, perubahan sikap sosial sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan adil bagi semua.

Rekomendasi Berita