Dua Aspek Krusial Bangun Sekolah Inklusif
- 23 Feb 2026 13:30 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Pendidikan adalah hak asasi bagi setiap warga negara, termasuk bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Di Aceh, upaya untuk menghadirkan pendidikan yang ramah bagi penyandang disabilitas terus berkembang melalui konsep pendidikan inklusif.
Kepala Sekolah SLB YBSM Banda Aceh, Asmahani, S.Pd, mengatakan bahwa memang adanya peningkatan terhadap penerimaan terhadap anak anak disabilitas di Aceh. Namun masih terdapat kesenjangan fasilitas yang berbeda di berbagai daerah.
“Untuk disabilitas yang berada di Banda Aceh, mungkin mudah untuk mengakses jalan menuju pendidikan relative mudah. Namun, jika kita bandingkan dengan daerah-daerah yang terpencil seperti di kepulauan, pelayanan dan fasilitas belum merata dan belum optimal,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Minggu 1 Februari 2026.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa menjadi sekolah inkllusif bukan hanya soal menerima pendaftaran mudrid disabilitas, tetapi tentang kesiapan ekosistem sekolah. Menurutnya, ada dua aspek krusial untuk menjadi sekolah inklusif:
- Sarana Prasarana yang Aksesibel: Sekolah harus memiliki fasilitas fisik yang mendukung, seperti jalur landai (ramp) untuk kursi roda, pegangan tangan (handrail), hingga ubin pemandu (guiding block) untuk tunanetra. Tanpa fasilitas ini, kemandirian siswa akan terhambat.
- Peningkatan Kompetensi Guru: Guru di sekolah regular membutuhkan pelatihan berkelanjutan dalam menguasai keterampilan khusus, seperti sistem isyarat, Teknik artikulasi, hingga penguasaan huruf Braille.
Ia juga mengatakan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam pendidikan disabilitas bukanlah keterbatasan fisik sang anak, melainkan stigma masyarakat. Masih ada orang tua yang merasa malu atau enggan menyekolahkan anaknya karena pandangan negatif lingkungan. Padahal, peran orang tua adalah kunci utama, karena anak disabilitas juga dapat memiliki potensi besar jika diberi ruang belajar yang tepat.