Kalkun Dalam Sejarah, Penyebaran dan Pengaruh Budaya

  • 09 Des 2024 20:26 WIB
  •  Bengkalis

KBRN, Bengkalis: Kalkun, atau ayam belanda, adalah burung besar dalam genus Meleagris, yang berasal dari Amerika Utara. Saat ini, ada dua spesies kalkun yang masih ada: kalkun liar (Meleagris gallopavo) yang terdapat di Amerika Utara bagian timur dan tengah, serta kalkun merak (Meleagris ocellata) yang ditemukan di Semenanjung Yucatán, Meksiko.

Kalkun jantan dari kedua spesies ini memiliki ciri khas berupa gelambir berdaging yang menggantung di bagian atas paruh, yang disebut jejuntai. Mereka termasuk salah satu burung terbesar di wilayah jelajahnya. Seperti kebanyakan burung tanah besar (ordo Galliformes), burung jantan lebih besar dan lebih berwarna dibandingkan burung betina. Kalkun domestik, yang dipelihara dan digunakan baik sebagai sumber pangan maupun sebagai hewan peliharaan, memiliki nilai budaya yang penting di berbagai tempat.

Menurut laman wikipedia, kalkun pertama kali berevolusi di Amerika Utara lebih dari 20 juta tahun yang lalu. Mereka memiliki nenek moyang yang sama dengan ayam kaki-kasar, burung pegar, dan unggas lainnya. Spesies kalkun liar merupakan nenek moyang kalkun domestik, yang didomestikasi sekitar 2.000 tahun yang lalu oleh masyarakat adat. Kalkun domestik ini kemudian menyebar ke Eurasia melalui pertukaran Kolombia.

Kalkun kemungkinan besar pertama kali didomestikasi di Meksiko pada periode Pra-Columbus, di mana mereka memiliki nilai budaya dan simbolis yang penting. Dalam bahasa Nahuatl Klasik, kata untuk kalkun adalah huehxōlō-tl (yang kini dikenal sebagai guajolote dalam bahasa Spanyol), dan istilah ini masih digunakan di Meksiko modern selain kata umum pavo.

Dalam kebudayaan Maya, tampaknya kalkun bermata (kalkun merak) memiliki hubungan khusus dengan para bangsawan dan pendeta. Ideogram yang menggambarkan burung ini muncul dalam manuskrip Maya, seperti yang dicatat dalam buku Animal Figures in the Maya Codices (1910) karya Alfred Tozzer dan Glover Morrill Allen.

Penulis sejarah Spanyol, termasuk Bernal Díaz del Castillo dan Pastor Bernardino de Sahagún, menggambarkan berbagai makanan yang dijual di pasar-pasar besar (tianguis) Tenochtitlán, mencatat adanya tamale yang terbuat dari kalkun, iguana, cokelat, sayuran, buah-buahan, dan banyak lagi.

Kalkun pertama kali diekspor ke Eropa melalui Spanyol sekitar tahun 1519, di mana mereka langsung mendapatkan popularitas di kalangan bangsawan. Kalkun kemudian diperkenalkan ke Inggris pada tahun 1541. Dari Inggris, pemukim Inggris membawa kalkun ke Amerika Utara pada abad ke-17. Di Indonesia, kalkun pertama kali dikenalkan oleh Belanda, yang memberi nama kalkun berdasarkan kata Belanda kalkoen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....