Tomat Rampai, Cassan Asam Pusaka Sumatera
- 19 Okt 2025 10:56 WIB
- Pekanbaru
KBRN, Pekanbaru : Anda mungkin pernah mencicipi sambal yang terasa segar berbeda dan bertanya-tanya, “Ini tomat biasa atau apa ya?” Kalau sambal tersebut menggunakan buah mungil asam yang kerap tumbuh di kebun masyarakat Lampung atau Sumatra Selatan, besar kemungkinannya itu adalah buah dari Solanum pimpinellifolium atau yang dikenal di Indonesia sebagai tomat rampai.
Menurut Wikipedia Tomat rampai adalah spesies tomat liar yang berasal dari wilayah Ekuador dan Peru, kemudian dinaturalisasi di lokasi lain seperti Kepulauan Galápagos.
Di Indonesia, tanaman ini telah ditemukan tumbuh secara liar maupun dibudidayakan secara tradisional, terutama di Lampung dan Sumatera Selatan. Masyarakat di Sumatera Selatan biasa menyebutnya “cung kediro”.
Meski sekilas mirip tomat biasa, tomat rampai punya sejumlah perbedaan yang cukup jelas, seperti :
1. Ukuran: Tomat biasa punya diameter sekitar 2-5 cm, sedangkan rampai sebesar kelereng atau sedikit lebih besar.
2. Bentuk dan batang: Rampai memiliki batang yang lebih ramping, sangat bercabang, berbulu halus, dan bunga tersusun dalam tandan.
3. Rasa: Tomat umum rasanya agak manis dengan sedikit asam, sedangkan rampai rasanya cenderung asam dan segar
Tomat rampai bukan sekadar “versi kecil” dari tomat biasa, ternyata punya keunggulan gizi pula. Sebagai contoh kandungan vitamin A dalam rampai lebih dari dua kali lipat tomat biasa (sekitar 2.000 SI vs ~900 SI) menurut satu sumber.
Selain itu, jumlah vitamin C, kalsium, asam-fenolik dan antioksidan pada rampai disebut lebih tinggi. Keunggulan ini menjadikannya menarik dari sisi nutrisi.
Di Lampung dan Sumatera Selatan, tomat rampai digunakan sebagai elemen khas dalam masakan tradisional antara lain untuk sambal (dikenal “sambal rampai”), pindang, masakan asem-padeh dan lain-lain.
Rasa asam yang khas dari buah ini membantu menghadirkan sensasi “segar” yang berbeda dibandingkan tomat biasa dalam sambal atau pelengkap lauk.
Tomat rampai adalah salah satu warisan tanaman nusantara yang kaya akan cita rasa, nilai gizi, dan potensi budaya kuliner. Bagi masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan, ia bukan sekadar buah melainkan identitas rasa lokal yang khas.
Dengan perhatian yang tepat, rampai bisa berkembang menjadi produk unggulan daerah yang memperkuat kearifan lokal, sekaligus menambah kekayaan menu kuliner Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....