Profil Prof Junaidi, Rektor Baru Unisma Periode 2024-2028

  • 02 Jul 2024 09:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
KBRN, Malang: Rektor baru Universitas Islam Malang (Unisma) periode 2024-2028 resmi dijabat Prof Junaidi. Sebelumnya, Prof Junaidi merupakan Wakil Rektor I Unisma dan dalam tulisani ini bisa disimak profilnya.

Pelantikan rektor ini dilakukan di gedung Pasca Sarjana lantai 7 Unisma, Senin (1/7/2024). Prof Junaidi menggantikan Rektor Unisma sebelumnya, Prof Maskuri.

Usai dilantik, Prof. Junaidi mengaku akan melanjutkan capaian yang telah diraih rektor sebelumnya. Yakni mewujudkan Unisma menjadi world class university atau kampus berkelas dunia.

“Setelah pelantikan tentu pada periode ini tugasnya adalah melanjutkan dan meningkatkan capaian. Saya sebagai WR 1 di periode sebelumnya, sehingga saya tahu persis dimana posisi Unisma dalam capaian itu,” ujarnya.

Dalam empat tahun ke depan, ia bertekad akan membawa Unisma terbang. Filosofinya adalah mengembangkan kampus secara cepat sebagai wolrd class university.

“Mengingat target 2027 sudah sangat dekat, sehingga energi kita pusatkan ke sana. Tent tanpa meningggalkan sisi lain yang sudah kita capai,” katanya menambahkan.

Sementara Rektor Unisma periode 2014-2024, Prof. Maskuri mengungkapkan, meski sudah tidak menjadi rektor lagi, dia siap menjadi dosen dan peneliti. Ia berpesan pada rektor yang baru untuk terus mengembangkan Unisma.

Prof Junaidi Mistar M.Pd., Ph.D adalah dosen dan guru besar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma.
Bidang keahliannya adalah strategi pembelajaran bahasa Inggris, penelitian dan statistik.

Saat menjabat Rektor I Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd, Ph.D secara resmi ditetapkan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Mensristekdikti), Mohammmad Nasir sebagai Guru Besar.

Ia menjadi guru besar di Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 2737/A2.3/KP/2016. Prof Junaidi kelahiran Lumajang, 3 April 1967, ia menempuh pendidikan SD hingga SMA di Lumajang.

Lalu menjalani S1 dan S2 di IKIP Malang, serta S3 di Monash University, Melbourne, Australia 1998-2002. Sejak Mei 2012, ia mengajukan diri menjadi Guru Besar. N

Namun baru tahun 2014 diterima karena terkait kasus plagiasi dari salah satu Perguruan Tinggi di wilayah Kopertis VII. Saat itu ia terkena getahnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....