Frame Ritz Association Tayangkan Perdana Tujuh Film Indie

  • 28 Jul 2022 02:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta : “Almarhum Ayah atau Istri” menjadi film independen atau film indie pertama, yang diputar dalam “Gala Premier” tujuh film indie yang didanai oleh Frame Ritz Association, Rabu (27/07/2022) siang di bioskop yang terletak di bilangan Jakarta Selatan.

Asosiasi yang berada di bawah Rumah Produksi Frame Ritz itu, menayangkan tujuh film indie karya para sineas muda dari sejumlah kota di Pulau Jawa.

Sutradara film “Almarhum Ayah atau Istri”, Haikal Damara, menyebut, pihaknya sangat terbantukan dengan adanya dukungan pendanaan dari pihak rumah produksi.

“Senang maksudnya masih ada production house (rumah produksi) besar seperti Frame Ritz masih peduli dengan kita, dengan komunitas komunitas film di luar jakarta. Mereka mau memberi dukungan kepada kita bikin film dengan biayanya. Karena, membuat film juga paling besar ya di biaya sebenarnya. Meskipun kita low budget (anggaran yang rendah),” ujar Haikal ditemui di sela-sela Gala Premier.

Selain, dirinya menilai penanyangan ketujuh film di platform Youtube merupakan sesuatu yang bagus.

“Platform apapun sebenarnya kita bikin film untuk ditonton, jadi platform apapun itu bagus menurutku,” ucapnya.

Sutradara muda asal Surabaya ini pun berharap, dukungan kepada para sineas muda maupun penggiat film indie bisa semakin meluas, tidak hanya bagi mereka yang berada di Pulau Jawa.

Sebenarnya perlu (rumah produksi lain mendukung), karena komunitas banyak. Ini Frame Ritz itu saja ada berapa (komunitas film indie), apalagi kalau banyak (rumah produksi) lebih asyik. Bisa dari luar luar daerah seperti Bali Lombok atau Makassar dan Medan sekitarnya, itu banyak komunitas lain di Indonesia timur misalnya. Kawan-kawan itu banyak komunitas-komunitas yang butuh kayak gini yang disupport kayak gini. Karena kita bisa bikin (film), kadang bingung gimana distribusinya. Mungkin dengan bantuan bantuan PH-PH bisa bantu kita distribusi dan juga bisa punya nama,” papar Haikal.

Senada dengan Haikal, pemeran utama “The Night Owl”, Fahmi Ardian, mengatakan, dukungan kepada para sineas muda penggiat film indie, sangat membantu khususnya terkait pendanaan produksi film.

“Sebagai wadah untuk anak-anak muda bersama sutradara dan juga yang diwadahi oleh Frame Ritz ini benar-benar tergantung juga untuk masalah seperti pra produksi, produksi dan proses akhir itu terbantu untuk masalah-masalah seperti itu. Apalagi yang dibuat ini kan bukan anak-anak yang sudah lama di dunia film, mereka teman-teman yang baru memulai membuat film apalagi anak-anak kampus Iya secara budgeting terbantu,” kata Fahmi.

Mahasiswa Politeknik Bandung yang aktif di terater itu juga menjelaskan, terlibat di dalam produksi film indie merupakan pengalaman pertamanya dan memberikan banyak ilmu khususnya terkait penguatan peran.

“Kalau tentang tantangan benar-benar berbalik dengan kehidupan nyata. Kalau di kehidupan dunia nyata memang sama lingkungan itu ekstrovert, ngobrol. Tapi, di film “The Night Owl” movie tantangannya adalah harus introvert, pendiam dan tidak bisa bercanda. Jadi, explore dan observasi nya lama lumayan menantang bagi diri sendiri,” papar Fahmi.

“Untuk pendalaman karakter dibantu sama sutradara dan juga ada pemain yang ikut proyek, yang disuruh untuk private acting. Karena, mungkin teater dan dalam film itu ada perbedaan,” sambungnya.

President Director Rumah Produksi Frame Ritz, Rieta Amilia mengungkapkan, berawal dari keprihatinan atas kurangnya wadah penyalur film indie, menjadikannya tergerak untuk mendukung para sineas muda Indonesia tetap berkarya.

“Banyak anak-anak muda sekarang yang tidak punya wadah untuk hasil karya mereka, tidak tahu mau dikemanakan dan bagaimana orang bisa lihat. Bagus banyak tapi kita tetap pilih yang terbaik. Jadi, karena kita juga mikir nanti kita memberikan tontonan yang ada edukasi juga menarik. Pokoknya, yang penting mereka ada wadah untuk bisa dilihat sama orang banyak,” ungkap ibunda Nagita Slavina ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mama Rieta ini, dengan kesuksesan produksi tujuh film indie pada lencana pertama akan diikuti dengan lencana kedua.

“Harus semangat jadi kita sama-sama cari peluang untuk bisa lebih bagus dunia film, biar bisa berkembang. Karena, mereka juga saya pikir mereka itu kan pintar-pintar anak muda sekarang pakai handphone saja jadi kok. Tapi tidak ada wadah, jadi yang nonton tidak terlalu banyak. Menurut saya siapa tahu ada yang mau mendanai ini lebih bagus lagi dan saya pikir bisa menjadi lebih besar,” harapnya.

Tujuh film indie karya sineas muda asal beberapa kota di Pulau Jawa, memiliki genre atau jenis yang beragam. Seperti, drama, drama thriller hingga horor.

Proses produksinya memakan waktu yang cukup singkat antara satu hingga dua bulan.

Kru yang terlibat dalam proses produksi sebagian besar merupakan para sineas muda yang berasal dari komunitas film indie di wilayah masing-masing.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....