Jabar Jadi Percontohan Nasional Program Pengurangan Sampah Pangan

  • 30 Sep 2026 21:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jawa Barat terpilih menjadi percontohan nasional dalam program pengurangan sampah pangan melalui Program Food Loss and Waste Reduction (FLOWER) 2025 - 2045.
  • Adapun program tersebut lahir berkat kolobrasi tiga lembaga antara lain, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Global Green Growth Institute (GGGI) dan Pemprov Jabar.

RRI.CO.ID, Kota Bandung- Jawa Barat terpilih menjadi percontohan nasional dalam program pengurangan sampah pangan melalui Program Food Loss and Waste Reduction (FLOWER) 2025 - 2045. Yang resmi diluncurkan di Bandung, Selasa, 29 September 2026.

Adapun program tersebut lahir berkat kolobrasi tiga lembaga. Yaitu Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Global Green Growth Institute (GGGI). dan Pemprov Jabar.

Pejabat Kementerian PPN, Teguh Sambodo mengatakan, melalui program tersebut, masyarakat didorong memiliki kesadaran, tanggung jawab, dan juga inovasi. Yang memungkinkan mengelola limbah dari produksi hingga konsumsi secara bertanggung jawab.

"Jawa Barat dipilih menjadi percontohan (pilot project) program FLOWER karena memiliki tantangan. Sekaligus potensi besar dalam susut dan sampah pangan," katanya, melalui keterangannya, Rabu, 30 September 2026.

Menurut studi Kementerian PPN pada tahun 2024, susut pangan di Jawa Barat mencapai 47,79% dari FLW (food loss and waste/FLW) di tingkat provinsi. Dengan kawasan Bandung Raya berkontribusi terhadap 1,5 juta ton sisa pangan setiap tahunnya.

“Kami mengapresiasi dari Provinsi Jawa Barat yang sudah menjadi, bersedia menjadi pilot. Serta menjadi lighthouse untuk provinsi yang lain dalam mengembangkan, menerapkan ekonomi sirkular,” katanya.

Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Jabar, Sumasna mengatakan, sampah makanan menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi Jawa Barat. Sebab jumlahnya cukup banyak dan mendominasi dari total sampah yang masuk ke pembuangan akhir.

“Di urusan hilir, sampah yang masuk ke TPA itu ternyata 45 sampai 50 persen itu merupakan sampah dari sisa makanan. Ini menjadi tantangan bagi kami," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....