Karhutla Landa Rinjani, Jalur Torean dan Senaru Masih Ditutup
- 28 Sep 2026 18:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebakaran hutan dan lahan melanda Taman Nasional Gunung Rinjani sejak Selasa, 22 September 2026, dimulai dari Bukit Setampol di Resor Torean.
- Jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup untuk menjaga keselamatan pengunjung selama proses pemadaman kebakaran berlangsung.
- Petugas telah melakukan pemantauan dan menyiapkan langkah-langkah pemadaman sejak kebakaran pertama kali dilaporkan pada pukul 18.50 WITA.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sejak Selasa, 22 September 2026. Jalur pendakian Torean dan Senaru dilaporkan masih ditutup demi keselamatan pengunjung.
Kebakaran pertama kali dilaporkan di Bukit Setampol, Resor Torean, pada pukul 18.50 WITA. Petugas kemudian melakukan pemantauan dan menyiapkan langkah pemadaman.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, mengatakan tim awal berjumlah sekitar tujuh orang. Tim terdiri atas personel Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api.
Petugas menunda keberangkatan karena kondisi malam dan jarak menuju lokasi cukup jauh. Tim pemadaman kemudian diberangkatkan pada keesokan paginya.
“melihat jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi juga sudah malam, sudah gelap. Sehingga kita baru berangkatkan besok paginya menuju lokasi terjadinya kebakaran,” ucap Astekita saat berbincang dengan Pro3 RRI, Senin 28 September 2026.
Luas area terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare hingga Minggu, 27 September 2026. Angka itu masih merupakan estimasi berdasarkan pemantauan lapangan dan pemetaan petugas.
Astekita menyampaikan bahwa satu titik api masih terpantau mengeluarkan asap di jalur pendakian Senaru pada Senin pagi. Lokasinya berada di antara Pos 2 dan Pos 3 Senaru.
Gerimis mulai turun di bagian utara kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Petugas berharap hujan membantu menekan risiko penyebaran api.
Balai TNGR menyiapkan tim gabungan untuk menilai kondisi jalur Torean dan Senaru. Tim melibatkan petugas taman nasional, TNI, Polri, dan instansi terkait.
Pemeriksaan dilakukan sebelum kedua jalur kembali dibuka untuk pendaki. Pembukaan baru dilakukan setelah jalur dinyatakan aman dan layak dilalui.
“Kita ingin secepatnya karena teman-teman pendaki sudah menanyakan, tapi kita juga tidak ingin nanti masih ada titik api. Ataupun jalur pendakian yang terkena imbas kebakaran, jadi asesmen, baru nanti kita akan segera buka,” katanya.
Pendaki yang semula akan turun melalui Torean dialihkan ke jalur Sembalun. Jalur Senaru juga tidak dapat digunakan sebagai pintu masuk maupun keluar.
Sekitar 90 personel gabungan dikerahkan dalam penanganan kebakaran di Rinjani. Mereka berasal dari Balai TNGR, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, Brimob, dan unsur lain.
Cuaca kering mempercepat penyebaran api di kawasan Rinjani. Rumput dan savana yang mengering mudah terbakar, terutama saat angin bertiup kencang.
“Di jalur Torean, pada area terakhir itu sudah berpindah anginnya, berpindah ke arah barat. Dan ke arah Senaru, ini juga mempengaruhi untuk pemadaman kita,” ujarnya.
Perubahan arah angin turut memengaruhi sebaran api dan proses pemadaman. Petugas juga meningkatkan patroli serta mengimbau masyarakat dan pendaki tidak menyalakan api sembarangan. (Shafira Nursyifa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....