Karhutla Gunung Rinjani, Pendaki dari Senaru dan Torean Dialihkan ke Sembalun
- 28 Sep 2026 17:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Karhutla yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), NTB, terus menjadi perhatian setelah area terdampak diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.
- Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo mengatakan, pengaturan jalur tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pengunjung.
- Bagi pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar. Diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui jalur Sembalun
RRI.CO.ID, Jakarta - Karhutla yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), NTB, terus menjadi perhatian setelah area terdampak diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare. Sejumlah titik api memang telah berhasil dipadamkan, tetapi kobaran masih terpantau di lereng utara Puncak Sangkareang.
Kondisi tersebut, turut berdampak pada aktivitas pendakian di kawasan Gunung Rinjani. Pendaki yang masih berada di jalur dan sebelumnya berencana keluar melalui Senaru atau Torean, diarahkan untuk mengubah rute dan turun melalui jalur Sembalun.
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo mengatakan, pengaturan jalur tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pengunjung. Pendaki diminta, mengikuti arahan petugas di lapangan selama kondisi kebakaran masih berlangsung.
“Bagi pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar. Diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui jalur Sembalun,” kata Astekita dalam keterangan persnya, di NTB, dikutip Senin, 28 September 2026.
Karhutla di kawasan TNGR, ia mengungkapkan, telah berlangsung selama sekitar enam hari. Sebelumnya, tim gabungan berhasil mengendalikan api di kawasan Bukit Setampol dan sejumlah area di sekitarnya.
Tetapi, titik api baru masih terpantau di sektor Puncak Sangkareang melalui jalur pendakian Senaru. Astekita menyebut upaya pemadaman dan pemantauan masih terus dilakukan.
“Berdasarkan perkembangan terakhir sampai hari ini, api pada sejumlah sektor telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih terpantau menyala di lereng utara Puncak Sangkareang, sehingga kegiatan pemadaman dan pemantauan tetap dilanjutkan,” ucap Astekita.
Balai TNGR mencatat, area yang terdampak kebakaran saat ini diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare. Namun, angka tersebut belum menjadi data final karena masih akan diperbarui berdasarkan hasil pemantauan dan verifikasi kondisi di lapangan.
Untuk menangani kebakaran, sebanyak 90 personel dan tenaga pendukung telah dikerahkan ke sejumlah sektor. Mereka ditempatkan di Bukit Setampol, jalur pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru, hingga kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang-Pelawangan Senaru.
Proses pemadaman menghadapi tantangan cukup berat karena kondisi cuaca dan medan di kawasan pegunungan. Angin yang bertiup kencang, membuat api dapat bergerak dengan cepat, sementara vegetasi yang mengering meningkatkan potensi penyebaran kebakaran.
Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput, hingga material organik lainnya dilaporkan berada dalam kondisi sangat kering. Kondisi tersebut, membuat material di sekitar titik api mudah terbakar dan berpotensi mempercepat perluasan kebakaran.
Selain faktor angin dan kondisi vegetasi, lokasi titik api juga menjadi kendala tersendiri bagi petugas. Medan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau membuat proses mobilisasi personel, peralatan, serta logistik membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih besar.
“Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan. Akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan,” ujar Astekita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....