Unpad: Digitalisasi Tak Cukup Selamatkan Warisan Budaya
- 21 Sep 2026 02:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Digitalisasi membuka peluang besar untuk menyelamatkan warisan budaya Indonesia.
- Namun, penyimpanan warisan budaya dalam bentuk digital tidak otomatis membuat pengetahuan dan maknanya tetap hidup.
- Ute mengingatkan adanya paradoks di era digital ketika kemampuan manusia menyimpan informasi semakin besar.
RRI.CO.ID, Jatinangor - Digitalisasi membuka peluang besar untuk menyelamatkan warisan budaya Indonesia. Namun, penyimpanan warisan budaya dalam bentuk digital tidak otomatis membuat pengetahuan dan maknanya tetap hidup.
Hal itu disampaikan Dr. Ute Lies Siti Khadijah, M.Si., dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad), dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-66 Fikom Unpad. Orasi tersebut bertajuk “Menghidupkan Masa Silam, Menenun Masa Depan: Preservasi Warisan Kultural sebagai Fondasi Komunikasi Berkelanjutan.”
Ute mengingatkan adanya paradoks di era digital ketika kemampuan manusia menyimpan informasi semakin besar. Banjir informasi justru dapat membuat masyarakat kehilangan konteks dan pemahaman terhadap sejarahnya sendiri.
“Informasi melimpah ruah, namun pemahaman peradaban kian mengering,” ujar Ute dalam orasinya.
Menurut Ute, warisan budaya bukan sekadar benda lama yang harus disimpan. Manuskrip, tradisi lisan, pranata adat, dan berbagai peninggalan budaya merupakan pesan hidup dari generasi sebelumnya yang perlu dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, digitalisasi perlu disertai upaya menjaga konteks, nilai, dan makna yang terkandung dalam warisan budaya. Penyimpanan secara digital perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses preservasi yang lebih luas.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau AI juga memberikan peluang baru dalam preservasi budaya. Teknologi dapat membantu transkripsi aksara kuno, rekonstruksi artefak yang rusak, penerjemahan bahasa daerah arkais, hingga pembuatan digital twin situs sejarah.
Namun, Ute mengingatkan penggunaan teknologi tersebut membutuhkan kurasi dan penerapan etika. Algoritma tidak sepenuhnya bebas nilai dan dapat membawa bias apabila dikembangkan tanpa memperhatikan konteks sejarah serta kearifan lokal.
“Komputerisasi warisan budaya harus dipandu oleh kompas moral dan kearifan lokal,” katanya.
Ute juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat pemilik warisan budaya dalam proses pelestarian. Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, akademisi, atau lembaga kebudayaan.
Dalam riset yang dikemukakannya, pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui dialog setara di wilayah pesisir Batu Karas menghasilkan tingkat partisipasi publik hampir 80 persen. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai subjek komunikasi, bukan sekadar penerima program.
Untuk itu, Ute menawarkan tiga pendekatan preservasi, yakni arsip komunitas, warisan pariwisata, dan warisan digital. Ketiganya menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam menjaga sekaligus memaknai warisan budaya.
Fikom Unpad juga telah mengembangkan Aplikasi Klasifikasi Wayang berbasis komputasi cerdas serta aplikasi terkait rupa dan pagelaran wayang. Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk mendekatkan pengetahuan budaya kepada generasi muda.
Ute menegaskan tantangan preservasi budaya bukan hanya bagaimana menyimpan masa lalu. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan warisan tersebut tetap dipahami dan bermakna bagi generasi mendatang.
“Warisan kultural adalah benang-benang masa silam yang menanti untuk ditenun kembali menjadi kain masa depan peradaban,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....