BPBD Sumsel Catat 2.676 Karhutla, 15 Daerah Masuk Zona Merah
- 14 Sep 2026 21:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPBD Sumatra Selatan mencatat sebanyak 2.676 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 10 September 2026.
- Sebanyak 15 daerah di provinsi tersebut masuk kategori zona merah atau memiliki tingkat kerawanan tinggi.
- Berdasarkan data BPBD Sumsel per 10 September 2026, Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak.
RRI.CO.ID, Palembang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat sebanyak 2.676 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 10 September 2026. Sebanyak 15 daerah di provinsi tersebut masuk kategori zona merah atau memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Untuk di Sumsel ada 2.676 kejadian karhutla," kata Kabid BPBD Sumsel Sudirman di Palembang, Senin 14 September 2026. Ia mengatakan, hampir seluruh wilayah Sumsel masuk kategori rawan karhutla berdasarkan jumlah kejadian yang tercatat.
"Ada 15 daerah yang masuk dalam kategori daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Hanya Pagar Alam dan Empat Lawang yang belum masuk karena kejadiannya di bawah 30 kasus," kata Sudirman.
Berdasarkan data BPBD Sumsel per 10 September 2026, Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni mencapai 459 kejadian. Selanjutnya, Musi Banyuasin (Muba) mencatat 333 kejadian, Ogan Ilir 294 kejadian, Banyuasin 273 kejadian, dan Muara Enim 244 kejadian.
Kemudian, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat 181 kejadian, Prabumulih 168 kejadian, Ogan Komering Ulu (OKU) 103 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) 83 kejadian. Lalu, Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) 79 kejadian, Musi Rawas 75 kejadian, dan Lahat 70 kejadian.
Sementara itu, Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan) dan Lubuklinggau masing-masing mencatat 35 kejadian karhutla.
"Jika dirinci berdasarkan jumlah kejadian, OKI menjadi daerah dengan kasus karhutla terbanyak di Sumsel dengan 459 kejadian. Angka tersebut disusul Muba dengan 333 kejadian dan Ogan Ilir dengan 294 kejadian," ujarnya.
Sudirman mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena puncak musim kemarau di Sumsel masih berlangsung pada September 2026. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan karhutla perlu terus diperkuat.
BPBD Sumsel juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Masyarakat diminta bersama-sama menjaga lingkungan karena kondisi vegetasi yang mudah mengering selama musim kemarau dapat meningkatkan potensi kebakaran.
"Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Serta menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar," kata Sudirman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....