Dapur Umum BAZNAS Jadi Ruang Bangkit Penyintas Gempa NTT
- 30 Agt 2026 02:09 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dapur umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjadi ruang bagi para relawan dan penyintas gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bangkit dan saling menguatkan.
- Salah satunya Mashita, guru Pondok Pesantren Pancasila Reok yang tetap membantu sesama meski rumahnya terdampak gempa.
- Mashita merupakan warga Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT.
RRI.CO.ID, Manggarai - Dapur umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjadi ruang bagi para relawan dan penyintas gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk bangkit dan saling menguatkan. Salah satunya Mashita, guru Pondok Pesantren Pancasila Reok yang tetap membantu sesama meski rumahnya terdampak gempa.
Mashita merupakan warga Desa Salama, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga rusak akibat gempa, sementara kedua orang tuanya masih bertahan di posko pengungsian karena belum memungkinkan kembali ke rumah.
Saat gempa terjadi, Mashita sedang berada di Pondok Pesantren Pancasila Reok tempatnya mengajar. Ketika tanah berguncang, ia bersama para santri berhamburan mencari tempat aman dan Mashita memastikan seluruh santri berada dalam kondisi selamat.
Setelah para santri berkumpul di tempat terbuka, Mashita kemudian menghubungi kedua orang tuanya di rumah. Ia bersyukur mengetahui keduanya selamat meski rumah keluarga mereka mengalami kerusakan.
"Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada BAZNAS yang sudah menyediakan dapur umum. Ini sangat membantu, baik bagi warga sekitar maupun bagi saya pribadi," ujar Mashita.
Di tengah kondisi tersebut, Mashita memilih tidak berdiam diri dan bergabung menjadi relawan dapur umum BAZNAS di Pondok Pesantren Pancasila Reok. Setiap pagi selepas salat Subuh, ia bersama relawan lainnya menyiapkan makanan untuk para penyintas gempa.
Dapur umum tersebut menyiapkan sekitar 250 porsi makanan setiap hari. Makanan kemudian didistribusikan kepada kampung dan posko mandiri yang belum mendapatkan bantuan atau masih menunggu masuknya logistik.
Bagi Mashita, makanan yang dibagikan bukan sekadar bantuan pangan bagi warga terdampak gempa. Setiap porsi makanan juga menjadi bentuk kepedulian untuk membantu penyintas melewati masa sulit.
Sebagai penyintas, Mashita memahami bagaimana kehilangan rasa aman setelah bencana. Namun, pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk membantu warga lain yang mengalami kondisi serupa.
"Walaupun rumah saya terdampak dan sebagian runtuh, semangat saya tidak akan pernah runtuh untuk membantu teman-teman yang juga terdampak. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," katanya.
Menurut Mashita, dapur umum BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat NTT untuk bangkit bersama. Ia tidak hanya menerima bantuan sebagai penyintas, tetapi juga ikut menyiapkan dan menyalurkan bantuan bagi warga lainnya.
Rumah Mashita mungkin belum dapat kembali seperti semula dan kedua orang tuanya masih berada di posko pengungsian. Namun, di tengah kehilangan tersebut, ia memilih tetap bergerak dan membantu sesama.
Dari dapur umum BAZNAS, Mashita menunjukkan bahwa bangkit tidak selalu berarti kembali memiliki rumah yang utuh. Bangkit juga dapat berarti tetap mampu mengulurkan tangan kepada orang lain meski diri sendiri masih berada dalam keterbatasan.
"Harapan saya ke depan ada uluran tangan dari para dermawan yang ikhlas membantu para penyintas gempa. Bantuan tersebut tidak harus sekaligus, tetapi bisa diberikan secara perlahan, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk teman-teman lain yang rumah dan kehidupannya terdampak gempa," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....