Pemkab Pidie Jaya Percepat Pemulihan 1.607 Hektar Lahan Pertanian Pascabencana

  • 28 Agt 2026 02:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemkab Pidie Jaya, Aceh, melalui Dinas Pertanian terus mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi.
  • Langkah tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan masyarakat sehingga kembali produktif dan dapat digunakan petani untuk bercocok tanam.
  • 1.607 hektare mengalami kerusakan dan tertutup lumpur akibat meluapnya Krueng Meureudu.

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Dinas Pertanian Kabupaten Pidie Jaya, Aceh terus mempercepat rehabilitasi lahan pertanian yang terkena bencana tahun lalu. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat petani kembali produktif dengan bercocok tanam.

Plt Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya M Nur Isga mengatakan, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi terus dilakukan di sejumlah lokasi. "Kami terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian," kata M Nur Isga di Pidie Jaya, Kamis 27 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, total luas lahan pertanian di Kabupaten Pidie Jaya mencapai sekitar 8.500 hektare. Dari jumlah tersebut, 1.607 hektare rusak tertutup lumpur akibat meluapnya Sungai Krueng Meureudu.

Berdasarkan tingkat kerusakannya, 259 hektare dalam kondisi rusak berat, 143 hektare rusak sedang, dan 1.225 hektare rusak ringan. Untuk mempercepat pemulihan, Dinas Pertanian mengerahkan traktor disejumlah titik, salah satunya di Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua.

Sementara itu, lahan pertanian di Gampong Blang Cut, Gampong Buangan, dan Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua, masih rusak berat. Wilayah tersebut masih membutuhkan penanganan lanjutan.

"Kondisi di beberapa lokasi masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Terutama lahan yang mengalami kerusakan berat," ujarnya.

Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mengapresiasi langkah cepat Dinas Pertanian dalam menangani dampak bencana tersebut. Ia meminta proses pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan sumber penghidupan masyarakat.

"Bagaimana lahan pertanian masyarakat kembali produktif dan petani dapat kembali bekerja," kata Sibral. Menurutnya, proses pemulihan agar efektif dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Karena itu, ia meminta seluruh jajaran terkait terus melakukan pendataan, menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kerusakan. Dengan demikian penanganan lahan terdampak bisa lebih cepat.

"Kami ingin petani kembali ke sawah, kembali berproduksi dan kembali memiliki sumber penghidupan. Percepatan pemulihan pertanian penting untuk Kabupaten Pidie Jaya yang lebih tangguh pascabencana," ujarnya.

Kabupaten Pidie Jaya terletak di pantai Timur Aceh yang berbatasan dengan Kabupaten Pidie di sebelah Selatan dan Barat. Kabupaten ini baru terbentuk tahun 2007 yang merupakan pemekaran Kabupaten Pidie.

Bencana banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025 juga melanda Kabupaten Pidie Jaya. Bencana itu menyebabkan kerusakan parah pada ribuan hektare lahan persawahan akibat tertimbun endapan lumpur dan pasir.

Lahan yang tertutup lumpur hingga ribuan hektare, sehingga sawah ruak berat berat dan belum bisa ditanami padi. Petani di beberapa wilayah gagal tanam hingga dua musim berturut-turut karena kondisi lahan yang tertutup lumpur tebal.

Banyak petani kehilangan sumber pendapatan utama karena sawah tidak dapat diolah. Kondisi petani yang kehilangan pekerjaan inilah yang menjadi keprihatinan Pemkab Pidie Jaya.

Sambil menunggu pemulihan total, lahan bekas lumpur disulap menjadi kawasan produktif penanaman bawang merah, cabai, dan jagung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....