Mengenal Desa Adat Sade, Kampung Sasak Penjaga Budaya Ratusan Tahun

  • 24 Agt 2026 21:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebakaran Desa Adat Sade menghanguskan sekitar 150 rumah, termasuk 89 rumah adat Suku Sasak, dan berdampak terhadap lebih dari 300 warga.
  • Naskah Lontar Rengganis dan alat musik tradisional ikut terbakar, meski sebagian naskah kuno berhasil diselamatkan dalam kondisi rusak.
  • Desa Sade merupakan kampung adat penting Suku Sasak yang telah bertahan ratusan tahun, sekaligus menjadi desa wisata budaya sejak 1982.

RRI.CO.ID, Jakarta - Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terbakar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam. Si jago merah dilaporkan melahap habis ratusan rumah di desa wisata itu, membuat lebih dari 300 warga terdampak.

Kebakaran tersebut sebelumnya disebut terjadi pada Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WITA. Semula api berkobar di salah satu rumah di desa tersebut.

Setelah membesar dengan cepat, api kemudian merembet, membuat 150 rumah terbakar. Nahas, 89 di antaranya adalah rumah adat Suku Sasak yang sarat sejarah.

Tak ada laporan korban jiwa dalam insiden itu. Namun, ratusan warga kini terpaksa mengungsi karena rumahnya hangus dibakar api.

Kebakaran sempat menimbulkan kepanikan warga setempat karena tak sedikit yang telah tertidur ketika kebakaran terjadi. Banyak warga yang dibuat kaget dan panik lantaran terbangung saat si jago merah membesar dan melahap bangunan.

Meski tak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini, namun kebakaran tersebut menimbulkan kerugian bagi masyarakat adat setempat. Hal ini lantaran naskah lontar kuno yang mereka jaga selama ini ikut terbakar.

Naskah Lontar Rengganis merupakan harta warisan budaya Suku Sasak di Lombok. Secara turun temurun, naskah tersebut telah digunakan masyarakat setempat sebagai pedoman tata perilaku.

Tak ada catatan pasti tentang umur lontar tersebut, namun diperkirakan telah diturunkan selama berpuluh hingga ratusan tahun. Sayangnya, naskah lontar tersebut termasuk dalam barang yang ikut ludes dibakar api.

Sebagian naskah dilaporkan berhasil diselamatkan, namun kebanyakan telah rusak. Tidak hanya naskah, alat musik tradisional tersebut juga habis tidak tersisa.

Profil Desa Sade NTB, Lokasi Penting Masyarakat Adat Sasak

Desa Sade selama ini dikenal sebagai kampung tertua di Lombok, NTB. Desa ini diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-14 atau ke-16.

Dengan demikian, kampung adat ini telah bertahan dari berbagai arus perubahan zaman selama 500 hingga 600 tahun lamanya. Hingga kini, kampung tersebut tetap berfungsi sebagai ruang huni bagi penduduk setempat, terutama Suku Sasak.

Berdasarkan alamat yang kini berlaku, Desa Sade terletak di Jalan Raya Praya-Kita, Desa Rembitan, Pujut. Lokasi tersebut tergolong dekat dengan pusat Kota Mataram, hanya berjarak 43 kilometer atau tak lebih satu jam berkendara.

Desa ini memiliki luas sekitar 5,5 hektare dengan ratusan rumah yang berdiri di atasnya. Jumlah seluruh penduduk yang kini tercatat mencapai 700 orang.

Salah satu hal yang membuat Sade terkenal selama ini adalah keunikan arsitektur rumah di sana. Mayoritas bangunan rumah dibuat dari bambu, kayu, bedek, juga ilalang sebagai atapnya.

Masyarakat adat yang tinggal di Sade juga dikenal dengan keahlian mereka dalam menenun. Para pengrajin kain tenun di sana terkenal dengan keuletannya dalam memproduksi kain dengan bahan-bahan alami dan dibuat sendiri.

Kain tenun juga merupakan simbol kehormatan di Kampung Sade. Seorang perempuan Suku Sasak akan dianggap dewasa setelah berhasil menenun kain.

Selain terkenal karena kepiawaian dalam menenun kain, kampung ini juga dikenal karena tradisi pernikahan bernama “merariq”. Tradisi ini melibatkan kebiasaan bagi pihak laki-laki untuk membawa pihak perempuan secara diam-diam dari rumahnya untuk dinikahi.

Tradisi itu sempat menjadi kontroversi karena disalahartikan dan memicu angka pernikahan usia anak terjadi. Dalam beberapa kasus, tradisi yang disalahartikan juga memicu praktik kawin paksa.

Meski begitu, keberhasilan masyarakat Suku Sasak merawat Desa Sade selama beratus tahun membuatnya unik. Oleh karenanya, sejak 1982, pemerintah menetapkan status kampung ini sebagai desa wisata budaya.

Sejak itu, Desa Sade menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan. Baik di dalam negeri maupun mancanegara ketika menyambangi Lombok.

Akan tetapi, insiden kebakaran kerap terjadi di desa ini. Sebelum terbakar pada Sabtu malam lalu, kampung ini telah beberapa kali terbakar.

Hanya saja, skala kebakaran pada Sabtu lalu merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun. Skala kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan pun jadi salah satu yang terbesar bagi masyarakat adat setempat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....