PLN Resmikan Ekosistem Energi Hijau di Pulau Rengit

  • 23 Agt 2026 01:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PT PLN (Persero) meresmikan Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) Pulau Rengit di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung
  • Sistem energi terintegrasi tersebut mendukung peningkatan layanan listrik masyarakat dari sebelumnya sekitar 12 jam menjadi 24 jam
  • GEET Pulau Rengit memadukan pemanfaatan energi surya, sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen

RRI.CO.ID, Belitung - PT PLN (Persero) meresmikan Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) Pulau Rengit di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Sistem energi terintegrasi tersebut mendukung peningkatan layanan listrik masyarakat dari sebelumnya sekitar 12 jam menjadi 24 jam.

GEET Pulau Rengit memadukan pemanfaatan energi surya, sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen. Sebelumnya, kebutuhan listrik masyarakat setempat mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beroperasi sekitar 12 jam per hari.

Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan Pulau Rengit menjadi lokasi pertama technopark PLN yang resmi dioperasikan. Pengembangan tersebut sekaligus menjadi ruang pengujian penerapan teknologi energi hijau di wilayah kepulauan.

“Dengan memanfaatkan energi surya, BESS, turbin angin, dan fuel cell hidrogen. Kami berharap dapat meningkatkan efisiensi penyediaan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel,” kata Edwin, Minggu, 23 Agustus 2026.

Menurutnya, kinerja sistem tersebut akan terus dievaluasi untuk melihat peluang penerapan teknologi serupa di wilayah lain. Evaluasi terutama dilakukan terhadap keandalan sistem dalam menyediakan listrik selama 24 jam.

Pulau Rengit dihuni sekitar 150 jiwa atau 45 kepala keluarga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan. Ketersediaan listrik sepanjang hari diharapkan turut menunjang kegiatan produktif masyarakat, seperti penyimpanan hasil tangkapan melalui cold storage dan pengembangan pertanian berbasis konsep agrovoltaik.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Bangka Belitung Ira Savitri mengatakan pengembangan GEET menjadi bagian dari penguatan infrastruktur dan keandalan sistem kelistrikan di wilayah kepulauan. “GEET Pulau Rengit menjadi momentum penting dalam menghadirkan layanan listrik 24 jam, dari sebelumnya 12 jam, sekaligus memperkuat pelayanan kelistrikan di wilayah kepulauan,” ujarnya.

Sementara, General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh mengatakan Pulau Rengit juga dikembangkan sebagai ruang riset dan pembelajaran. Hasil pengoperasian sistem tersebut nantinya dapat menjadi bahan pengembangan model kelistrikan berbasis energi hijau di pulau-pulau terpencil.

“Jika terbukti beroperasi andal 24 jam, pengalaman ini dapat menjadi blueprint. Ini untuk pengembangan sistem energi hijau di pulau-pulau terpencil lainnya,” kata Soleh.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menilai penerapan teknologi tersebut dapat menjadi salah satu model pemanfaatan hasil riset untuk mendukung ketahanan energi. Pengembangannya dapat disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan energi masing-masing daerah.

Direktur Energi Baru Kementerian ESDM Senda Hurmuzan Kanam mengatakan pengembangan teknologi hidrogen di Pulau Rengit juga sejalan dengan peta jalan hidrogen nasional. Penerapannya diharapkan dapat menjadi salah satu referensi pengembangan sistem energi di wilayah kepulauan.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani berharap peningkatan layanan kelistrikan dapat memberikan manfaat bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Pemanfaatan listrik, menurutnya, dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan produktif dan pengolahan hasil daerah.

Pengembangan GEET Pulau Rengit turut melibatkan sejumlah perguruan tinggi. Universitas Gadjah Mada terlibat dalam pengembangan fuel cell, Universitas Sebelas Maret pada teknologi baterai, serta Universitas Bangka Belitung dalam pengembangan konsep agrovoltaik.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat Pulau Rengit sebagai lokasi riset dan pengembangan teknologi energi hijau. Hasil pengembangannya selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk penerapan sistem serupa sesuai karakteristik dan kebutuhan wilayah kepulauan lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....