Mapala UI Jelajah Maluku, Terbang dari Gamalama hingga Berdayakan Petani Kelapa

  • 12 Agt 2026 00:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mapala UI menggelar dua kegiatan di Maluku pada Agustus 2026, yakni ekspedisi paralayang Fly The Spice Islands di Maluku Utara dan program pengabdian masyarakat UIMN 2026 di Maluku Tengah.
  • Ekspedisi Fly The Spice Islands mengusung misi menelusuri jejak Jalur Rempah dari udara melalui Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka.
  • Program UIMN mencakup pelatihan pengolahan, pengembangan produk pangan, pembentukan komunitas kerja, serta penyerahan aset produksi kepada warga.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) menggelar dua agenda besar di Maluku pada Agustus 2026. Selain menaklukkan langit Maluku Utara melalui ekspedisi paralayang Fly The Spice Islands, Mapala UI juga turun langsung ke masyarakat Desa Wailulu, Maluku Tengah, untuk mengembangkan potensi ekonomi kelapa.

Dua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Mapala UI memadukan semangat petualangan dengan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ekspedisi Fly The Spice Islands melibatkan 10 orang, terdiri dari tiga pilot dan tujuh anggota pendukung. Sementara program Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) 2026 melibatkan 11 mahasiswa.

Ketua Mapala UI, Salman Muzhaffar, mengatakan kedua kegiatan tersebut merepresentasikan semangat anak muda untuk bertualang, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Kedua program ini menjadi representasi semangat bertualang anak muda sekaligus wujud kontribusi mahasiswa untuk masyarakat," kata Salman dalam keterangan tertulis, Selasa, 11 Agustus 2026.

Terbang Menyusuri Jejak Jalur Rempah

Ekspedisi Fly The Spice Islands membawa misi menyusuri jejak Jalur Rempah dari udara. Kawasan Maluku Utara dipilih karena memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia.

Tim menargetkan penerbangan dari tiga gunung, yakni Gunung Gamalama, Gamkonora, dan Woka. Ketiganya membentang dari Pulau Ternate, Halmahera hingga Kepulauan Tidore.

Mapala UI menyebut belum menemukan catatan mengenai penerbangan paralayang dari ketiga puncak tersebut. Karena itu, ekspedisi ini berpotensi mencatatkan penerbangan pertama yang terdokumentasi dari titik-titik tersebut.

Para pilot menggunakan metode hike and fly. Mereka terlebih dahulu mendaki gunung sebelum melakukan penerbangan dari kawasan puncak.

Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, tim berhasil merealisasikan penerbangan pertama dari puncak Gunung Gamalama. Pilot Paralayang Ekspedisi Fly The Spice Islands, Gendon Subandono, menggambarkan penerbangan perdana tersebut sebagai pengalaman yang menegangkan sekaligus membanggakan.

"Lepas dari bebatuan besar di lereng kawah utara rasanya lega. Parasut membumbung menjauh dari kawah Gamalama dan disambut pemandangan indah Pulau Ternate," ujar Gendon.

Ekspedisi tersebut turut melibatkan sejumlah pihak, di antaranya SENDAL-IKJ (Seni dan Alam Institut Kesenian Jakarta) dan BSM Rental untuk dokumentasi. Dukungan juga diberikan Mapala Emas Sonyinga Alam (ESA) Fakultas Teknik Universitas Khairun sebagai komunitas pencinta alam lokal, serta Basarnas dalam aspek keselamatan dan penyelamatan.

Mapala UI menargetkan hasil ekspedisi berupa rekomendasi kebijakan di bidang pariwisata dirgantara kepada pihak berwenang. Selain itu, kegiatan tersebut akan menghasilkan film dokumenter sebagai bagian dari upaya mengembangkan pariwisata minat khusus di Maluku Utara.

Tim Mapala UI bersama warga Desa Wailulu, Maluku Tengah, pada pembukaan program Universitas Indonesia Membangun Nusa (UIMN) 2026. Program ini mendorong pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan potensi ekonomi masyarakat setempat (Foto: Dok. Mapala UI)

Dari Kelapa Menjadi Tepung

Di Maluku Tengah, Mapala UI menjalankan misi berbeda melalui program UIMN 2026. Program pengabdian masyarakat tersebut resmi dibuka di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa, 11 Agustus 2026.

Program yang berlangsung sekitar satu bulan itu didukung Pemerintah Desa Wailulu dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Darussalam (Darmapala Ambon). Project Officer UIMN 2026, Nivand, mengatakan mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memberikan dampak kepada masyarakat di luar lingkungan kampus.

"Sebagai mahasiswa, selain punya kewajiban di dalam kelas kita juga punya kewajiban di luar kelas. Salah satunya untuk berdampak pada masyarakat Indonesia," ujar Nivand.

Program UIMN 2026 diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Khususnya, kelapa yang menjadi salah satu potensi utama Desa Wailulu.

Desa tersebut dapat menghasilkan panen kelapa hingga sekitar 30 ton. Namun, besarnya produksi belum sepenuhnya memberikan pendapatan yang sepadan bagi petani.

Selama ini, sebagian besar kelapa warga diolah menjadi kopra. Harga komoditas tersebut cenderung fluktuatif dan bergantung pada tengkulak sebagai perantara utama penjualan. Kondisi tersebut membuat pendapatan petani kelapa tidak selalu stabil.

Mapala UI kemudian memperkenalkan alternatif pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa. Produk tersebut dinilai memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas dibandingkan kopra.

Rangkaian kegiatan UIMN mencakup sosialisasi inovasi produk, praktik pembuatan tepung kelapa, demonstrasi pengolahan tepung menjadi produk pangan siap konsumsi, hingga pembentukan komunitas kerja.

Mapala UI juga akan menyerahkan aset produksi kepada warga. Langkah tersebut diharapkan memastikan kegiatan ekonomi dapat terus berjalan setelah program pengabdian berakhir.

Program menyasar tiga kelompok utama, yakni petani kelapa sebagai pemasok bahan baku, masyarakat yang terlibat dalam produksi, serta pelaku UMKM lokal yang akan memasarkan produk olahan.

Raja Negeri Wailulu, Muslim Tounussa, berharap tepung kelapa dapat berkembang menjadi salah satu produk unggulan desa.

"Harapan beta, selesai dari kegiatan ini, bukan selesai juga hasilnya. Namun, ibu-ibu PKK maupun UMKM menjadikan dia (tepung kelapa) sebagai salah satu produk unggulan yang ada di Negeri Wailulu," ucap Muslim.

Petualangan dan Pemberdayaan Berjalan Bersama

Pelaksanaan dua agenda Mapala UI di Maluku juga mendapat dukungan dari EIGER Adventure. Yakni, jenama perlengkapan luar ruang asal Bandung, Jawa Barat.

Brand Partnership Manager EIGER, Eva Fitri Yeni, menilai kegiatan tersebut menunjukkan kemampuan generasi muda menggabungkan aktivitas petualangan dengan pemberdayaan masyarakat.

"Peran kami adalah memastikan mereka punya dukungan yang dibutuhkan. EIGER senang bisa mendampingi langkah ini sebagai bagian dari perjalanan mereka. Kegiatan ini membuktikan bahwa petualangan bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat," kata Eva.

Melalui Fly The Spice Islands dan UIMN 2026, Mapala UI tidak hanya membawa semangat menjelajah wilayah timur Indonesia. Mereka juga berupaya meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, mulai dari pengembangan potensi pariwisata hingga peningkatan nilai ekonomi komoditas lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....