Olah Sampah Organik Jadi Energi, Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal di Jakut

  • 11 Agt 2026 16:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bank Jakarta akan membangun biodigester komunal berbasis sampah organik di dua lokasi di Jakarta Utara, yakni Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara.
  • Pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking di Rusunawa Rorotan, Senin 10 Agustus 2026.
  • Dirut Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, pembangunan biodigester komunal merupakan bentuk kontribusi Bank Jakarta dalam mendukung penanganan persoalan sampah di Jakarta, khususnya sampah organik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Jakarta akan membangun biodigester komunal berbasis sampah organik di dua lokasi di Jakarta Utara, yakni Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Pembangunan fasilitas pengolahan sampah tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking di Rusunawa Rorotan, Senin 10 Agustus 2026.

Groundbreaking dilakukan Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi bersama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Wali Kota Jakarta Utara Wawan Budi Rohman. Kemudian, Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Utara Iyan Sopian Hadi, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara Edy Mulyanto, serta Camat Cilincing Daniel Azka Alfarobi.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, pembangunan biodigester komunal merupakan bentuk kontribusi Bank Jakarta dalam mendukung penanganan persoalan sampah di Jakarta. Khususnya, sampah organik.

Melalui teknologi biodigester, sampah organik akan diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Sementara itu, residu dari proses pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa 11 Agustus 2026.

Ia mengatakan, persoalan sampah tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi dan konsistensi dari berbagai pemangku kepentingan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Dalam program ini, masing-masing biodigester dirancang mampu mengolah hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua unit biodigester yang dibangun di dua lokasi, kapasitas pengolahan sampah organik ditargetkan mencapai 500 kilogram per hari.

Berdasarkan kajian teknis, kedua unit tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari. Selain menghasilkan energi, pengoperasian biodigester juga diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau setara 154,4 ton CO2e per tahun.

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi sekaligus kesinambungan program.

“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Pembangunan biodigester di Rorotan dan Rawa Badak juga menjadi bagian dari kelanjutan kontribusi Bank Jakarta dalam pemanfaatan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan.

Sebelumnya, Bank Jakarta telah mendukung pembangunan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Fasilitas tersebut diresmikan pada November 2025.

“Pengalaman dari program biodigester di Pekayon menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi di bidang lingkungan. Kini, kami memperluas pemanfaatan teknologi biodigester yang berasal dari pengolahan sampah organik yang berasal dari sumber melalui program kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujar Arie.

Program pembangunan biodigester ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta 2026.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan limbah organik, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta mendorong pemanfaatan energi terbarukan.

Bank Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap keberadaan biodigester dapat memperkuat pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat. Selain mengurangi beban sampah, pengolahan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan biogas dan residu sebagai pupuk organik.

Upaya tersebut sekaligus mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Lalu, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sebagai financial backbone bagi Jakarta, Bank Jakarta menyatakan akan terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan kota melalui pembiayaan dan aktivitas ekonomi yang bertanggung jawab, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....