BNPB Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatra Selatan

  • 05 Agt 2026 05:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca selama 7 hari (4-10 Agustus 2026) untuk menangani bencana asap kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan.
  • Operasi ini merupakan upaya kedua BNPB setelah sebelumnya dilakukan operasi serupa pada 5-14 Mei 2026.
  • Data satelit NASA NOAA20 menunjukkan peningkatan drastis titik panas dari 46 hotspot pada 2 Agustus menjadi 104 hotspot pada 3 Agustus 2026.

RRI.CO.ID, Palembang - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam penanganan darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Wilayah Sumatra Selatan. Upaya ini berlangsung selama 7 hari, mulai 4 Agustus sampai dengan 10 Agustus 2026, setelah sebelumnya BNPB pernah menggelar operasi serupa pada 5 Mei sampai dengan 14 Mei 2026 lalu.

"Operasi kali ini bertujuan untuk mendukung upaya-upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir," jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D dalam siaran pers pada Selasa 4 Agustus 2026. Satelit NASA NOAA20 mencatat ada 46 titik panas atau hotspot pada 2 Agustus 2026 dan meningkat menjadi 104 titik panas pada 3 Agustus 2026.

Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., dalam rapat internal dengan para unsur pengarah, pejabat eselon I dan eselon II BNPB di Jakarta pada Rabu 29 Juli 2026 menyatakan bahwa OMC merupakan salah satu upaya untuk mendukung penanggulangan karhutla pada 6 provinsi prioritas di Indonesia. Karena provinsi dimaksud memiliki lahan gambut yang luas dan sangat sulit dipadamkan apabila terjadi kebakaran yang cukup masif, termasuk salah satunya di Provinsi Sumatra Selatan.

“Pada tanggal 28 Juli 2026, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, termasuk kami, BNPB, yang diundang dalam rapat tersebut. Dalam rapat tersebut, Kepala Negara menginstruksikan jajarannya untuk mengambil langkah-langkah strategis menghadapi potensi dampak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino, dengan fokus utama pada upaya menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan,” ujar Suharyanto.

"Arahan Presiden salah satunya untuk tetap melaksanakan OMC di 6 provinsi prioritas tersebut. Menindaklanjuti arahan presiden, BNPB kembali menggelar OMC di Sumatra Selatan, tentunya dengan pertimbangan masih ada cukup awan yang disemai sesuai dengan rekomendasi BMKG," ucapnya menambahkan.

Terkait dengan ancaman karhutla yang dapat diperburuk dengan adanya fenomena El Nino, Gubernur Sumatra Selatan telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhula di wilayahnya. Status ini telah berlaku mulai 22 April 2026 sampai dengan 30 November 2026.

Gubernur juga sudah bersurat kepada Kepala BNPB meminta dukungan OMC di wilayah Sumatra Selatan. Pesawat OMC yang digelar BNPB melalui pihak ketiga beroperasi dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang.

Pelaksanaanya mendapatkan dukungan dari TNI AU di Lanud setempat, BMKG dan BPBD provinsi. Pada Selasa 4 Agustus 2026, BNPB melaksanakan penerbangan OMC sebanyak satu sorti dengan penyemaian 1.000 kg bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.

OMC dengan pesawat fixed wings ini berhasil menjadi hujan dengan intensitas ringan di wilayah tersebut. Menyikapi akan masuknya musim kemarau yang berpotensi mengakibatkan buruknya bencana asap akibat karhutla, BNPB menekankan kembali instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Karhutla.

BNPB mengimbau, di antaranya pemerintah daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha kehutanan dan pertanian dapat bekerja sama dalam pencegahan dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....