Catatan Positif, KA Makassar–Parepare Layani 206.651 Penumpang hingga Juli 2026
- 04 Agt 2026 01:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KA Makassar–Parepare melayani 206.651 pelanggan sepanjang Januari–Juli 2026 atau meningkat 13,62 persen.
- Total pelanggan sejak awal operasi mencapai 1.032.163 hingga Juli 2026.
- KAI memperkuat konektivitas transportasi Sulawesi Selatan untuk mendukung mobilitas, ekonomi, dan pemerataan akses masyarakat.
RRI.CO.ID, Makassar - Kereta Api (KA) Makassar–Parepare melayani 206.651 pelanggan sepanjang Januari–Juli 2026 atau meningkat 13,62 persen dibandingkan periode sama 2025. Capaian tersebut menunjukkan meningkatnya penggunaan transportasi publik di Sulawesi Selatan.
Secara kumulatif, layanan KA Makassar–Parepare telah melayani 1.032.163 pelanggan sejak awal beroperasi hingga Juli 2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaporkan capaian tersebut pada Senin, 3 Agustus 2026.
Layanan KA Makassar–Parepare menjadi bagian pengembangan jaringan perkeretaapian Sulawesi untuk menghubungkan pusat-pusat kegiatan masyarakat. Kehadiran layanan tersebut memperluas pilihan mobilitas masyarakat di luar Pulau Jawa dan Sumatra.
Perekonomian Sulawesi Selatan tumbuh 6,88 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut meningkatkan kebutuhan transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi antardaerah secara lebih terhubung.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan pelanggan mencerminkan pentingnya konektivitas bagi perkembangan wilayah. Kemudahan akses perjalanan membuka peluang masyarakat menuju pendidikan, pekerjaan, perdagangan, layanan publik, dan pariwisata.
“Indonesia memiliki potensi besar yang tersebar di setiap daerah. Konektivitas membantu mempertemukan potensi tersebut dengan kesempatan. Ketika akses perjalanan semakin terbuka, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, bekerja, membangun usaha, bertemu keluarga, dan ikut mengembangkan daerahnya,” ujar Anne.
Lintas KA Makassar–Parepare melayani wilayah Maros, Pangkep, dan Barru yang memiliki potensi wisata beragam. Kemudahan perjalanan juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku kuliner, penginapan, transportasi lanjutan, dan ekonomi kreatif.
Anne menjelaskan peningkatan mobilitas masyarakat menghadirkan manfaat langsung bagi pelaku usaha, pekerja, pelajar, dan keluarga. Perjalanan kereta api memperluas kesempatan masyarakat menjangkau berbagai pusat kegiatan.
“Peluang hadir dalam bentuk yang konkret. Ada pedagang yang bertemu pelanggan baru, anak muda yang mengikuti pendidikan atau pelatihan, pekerja yang menjangkau tempat kerja, serta keluarga yang dapat melakukan perjalanan dengan lebih mudah. Setiap perjalanan dapat menjadi awal dari kesempatan yang sebelumnya terasa jauh,” kata Anne.
KAI juga menilai Parepare memiliki nilai sejarah penting sebagai kota kelahiran Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Kisah tersebut menunjukkan potensi besar dapat lahir dari berbagai daerah ketika akses menuju kesempatan semakin terbuka.
Anne mengatakan konektivitas membantu anak-anak daerah memperoleh akses menuju pendidikan dan pengembangan kemampuan. Kesempatan tersebut memungkinkan lahirnya generasi yang berkontribusi bagi pembangunan Indonesia.
“Parepare pernah melahirkan B.J. Habibie, sosok yang menunjukkan bahwa seorang anak daerah dapat membawa gagasan Indonesia melintasi batas dunia. Kita tidak pernah tahu dari kota atau desa mana talenta besar berikutnya akan lahir. Tugas bersama kita adalah membuka akses agar setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan melaju,” ujar Anne.
Menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, KAI terus meningkatkan kualitas layanan. Perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan perkeretaapian Sulawesi.
“Setiap orang berhak melaju. Mereka berhak memiliki kesempatan untuk belajar lebih tinggi, bekerja lebih baik, membangun usaha, dan menghadirkan perubahan bagi daerahnya. Kereta api terus melaju membawa masyarakat menuju tujuan, sebagaimana Indonesia terus melaju melalui kemampuan dan harapan rakyatnya,” kata Anne.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Di setiap kota, desa, pesisir, dan kawasan pegunungan terdapat masyarakat dengan kemampuan, keberanian, dan cita-cita. Konektivitas membuka jalan agar potensi tersebut bertemu dengan kesempatan. Ketika masyarakat Sulawesi Selatan dapat terus melaju, daerah ikut berkembang dan Indonesia juga melaju,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....