Peran Pasar Jaya Jadi Kunci Jakarta Bebas Plastik Sekali Pakai

  • 30 Jul 2026 18:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perumda Pasar Jaya terus memperkuat langkah untuk mewujudkan Jakarta bebas dari plastik sekali pakai.
  • Peran Pasar Jaya dinilai semakin penting mengingat perusahaan tersebut mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di seluruh Jakarta.
  • Agus Himawan menegaskan Perumda Pasar Jaya berkomitmen menjadi salah satu motor penggerak Gerakan Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Perumda Pasar Jaya terus memperkuat langkah untuk mewujudkan Jakarta bebas dari plastik sekali pakai. Upaya tersebut dinilai penting karena persoalan sampah plastik kini tidak hanya menjadi isu kebersihan, tetapi juga berdampak pada lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga keberlanjutan pembangunan kota.

Komitmen tersebut mengemuka dalam talk show bertajuk "Bersama Mewujudkan Jakarta Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan" dengan tema "Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai: Waste to Energy, Inovasi, dan Solusi Tata Kelola Sampah", Kamis 30 Juli 2026. Acara ini diselenggarakan Presidium Pemuda Indonesia (PPI) di Gedung KNPI DKI Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur.

Kegiatan tersebut menghadirkan Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto (SGY-Emik), Plt Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti, serta Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri. Sementara Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan berhalangan hadir karena memiliki agenda lain.

Dalam kesempatan terpisah, Agus Himawan menegaskan Perumda Pasar Jaya berkomitmen menjadi salah satu motor penggerak Gerakan Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai. Yakni, melalui berbagai program yang diterapkan di seluruh pasar yang dikelolanya.

Menurut Agus, Pasar Jaya akan terus mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mendorong masyarakat menggunakan tas belanja ramah lingkungan yang dapat dipakai berulang kali. Edukasi kepada pedagang maupun konsumen juga akan diperkuat agar kesadaran mengurangi sampah plastik semakin meningkat.

Selain itu, Pasar Jaya akan memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Perusahaan daerah tersebut juga terus mengembangkan inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular serta mendukung penerapan teknologi Waste to Energy (WtE) bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

"Pasar tradisional memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pusat aktivitas ekonomi dan berinteraksi langsung dengan jutaan masyarakat setiap hari. Oleh karena itu, perubahan perilaku di lingkungan pasar akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah plastik sekaligus mendukung terwujudnya Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan," ujar Agus.

Peran Pasar Jaya dinilai semakin penting mengingat perusahaan tersebut mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di seluruh Jakarta. Jaringan pasar itu menjadi sarana efektif untuk membangun kebiasaan penggunaan tas belanja ramah lingkungan, mengurangi plastik sekali pakai, sekaligus membiasakan pemilahan sampah dari sumbernya.

Sementara itu, Plt Deputi PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti mengatakan Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari. Kondisi tersebut menuntut penerapan strategi pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, teknologi Waste to Energy merupakan salah satu solusi penting karena mampu mengolah residu sampah menjadi energi listrik. Namun, teknologi tersebut bukan satu-satunya jawaban dalam menyelesaikan persoalan sampah.

"Ada kebijakan pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui Waste to Energy. Namun teknologi ini hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Diperkirakan sekitar 24 persen permasalahan sampah dapat ditangani melalui pendekatan tersebut," kata Laksmi.

Ia menegaskan bahwa pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional. Hal senada disampaikan Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri.

Menurutnya, sampah plastik harus menjadi perhatian serius karena selain mencemari lingkungan juga berpotensi mengancam kesehatan manusia akibat mikroplastik. "Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang," ujarnya.

Erma menambahkan Pemprov DKI Jakarta terus mendorong masyarakat, kawasan permukiman, perkantoran, hingga pelaku usaha untuk memilah sampah ke dalam empat kategori. Yakni, sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.

Dalam kesempatan yang sama, Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto menilai pasar tradisional merupakan titik paling strategis untuk mengurangi timbulan sampah plastik. Karena itu, Perumda Pasar Jaya memiliki peran besar dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah di lingkungan pasar.

"Pasar Jaya memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perubahan perilaku pedagang dan konsumen melalui penerapan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. Serta pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ujarnya.

Sugiyanto menambahkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan Waste to Energy merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Namun, keberhasilan pembangunan fasilitas RDF maupun WtE sangat bergantung pada tata kelola pemerintahan yang baik, kepastian regulasi, pembiayaan berkelanjutan, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan teruji, pengendalian emisi yang ketat, serta kemitraan yang transparan dengan dunia usaha.

Menurutnya, pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, daur ulang, pengolahan sampah organik, RDF. Hingga Waste to Energy harus menjadi satu kesatuan dalam strategi besar pengelolaan sampah Jakarta.

"Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat, yang didukung teknologi pengelolaan sampah modern. Serta perubahan perilaku masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar menjadi kota yang lebih bersih, sehat, tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkas Sugiyanto

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....