BMKG Ungkap Penyebab Hujan Deras di Bogor Saat Musim Kemarau

  • 19 Jul 2026 18:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah Bogor dan sekitarnya setelah berhari-hari mengalami kekeringan, Minggu 18 Juli 2026, malam.
  • BMKG menjelaskan hujan tersebut terjadi akibat dinamika atmosfer regional, meski Jawa Barat sedang memasuki musim kemarau.
  • BMKG menyebut, hujan tersebut tidak menandakan musim kemarau telah berakhir.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah Bogor dan sekitarnya setelah berhari-hari mengalami kekeringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan hujan tersebut terjadi akibat dinamika atmosfer regional, meski Jawa Barat sedang memasuki musim kemarau.

Demikian disampaikan Sekretaris Utama BMKG Guswanto kepada wartawan, di Jakarta, Minggu 19 Juli 2026. Ia mengatakan, hujan deras di Bogor dipicu aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial yang masih aktif melintasi wilayah Indonesia.

"Bahwa hujan deras di Bogor terjadi akibat adanya gangguan atmosfer regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial yang memicu pertumbuhan awan hujan meski wilayah Jawa Barat sedang berada dalam musim kemarau. Fenomena ini bersifat sesaat dan tidak menandakan berakhirnya musim kemarau," katanya.

BMKG menyatakan seluruh wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau sejak awal Juli 2026. Pada periode tersebut, curah hujan rata-rata berada di bawah 50 milimeter per dasarian atau periode 10 hari.

"Aktivitas MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial masih aktif melintasi wilayah Indonesia. Fenomena ini mendukung pembentukan awan hujan meski secara umum udara kering mendominasi," ujar Guswanto.

Selain itu, BMKG mencatat fenomena El Nino masih bertahan di Samudra Pasifik dengan indeks Nino 3.4 sebesar +1,25. Kondisi tersebut turut memperkuat tren penurunan curah hujan di Indonesia, termasuk Jawa Barat.

"Namun hujan lokal tetap bisa terjadi karena dinamika atmosfer regional," katanya. Guswanto mengatakan hujan di wilayah Cibinong, Bogor, berlangsung sekitar 1,5 jam pada Sabtu (18/7/2026) malam.

Hujan tersebut turun setelah wilayah Bogor mengalami kondisi kering selama beberapa hari.

"Hujan lokal terjadi di Cibinong sekitar 1,5 jam setelah berhari-hari kering. Warga menyambut gembira karena membantu meredakan kekeringan dan krisis air bersih," katanya.

Berdasarkan pantauan, hujan mulai turun di wilayah Cibinong sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan awalnya berintensitas rendah. Namun, kurang dari 10 menit kemudian, hujan berubah menjadi deras dan berlangsung hingga sekitar pukul 21.30 WIB.

Meski demikian, BMKG menegaskan hujan tersebut tidak menandakan musim kemarau telah berakhir. "Potensi hujan sporadis masih bisa terjadi di Jawa Barat hingga akhir Juli, namun secara umum curah hujan tetap rendah," ucapnya.

"Warga tetap perlu waspada kekeringan. Karena distribusi air bersih masih menjadi kebutuhan utama di 13 kecamatan terdampak," ujar Guswanto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....