Wakapolri: 418 Lulusan Sespim Polri Jadi Garda Terdepan Hadapi Tantangan Global
- 03 Jul 2026 22:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakapolri menutup pendidikan 418 peserta Sespim Lemdiklat Polri.
- Polri menekankan pentingnya integritas dan pelayanan humanis.
- Mengusung konsep sport, tourism, dan humanity dalam satu kegiatan
RRI.CO.ID, Jakarta – Sebanyak 418 peserta didik resmi menyelesaikan pendidikan kepemimpinan Polri di Sespim Lemdiklat Polri. Mereka diharapkan menjadi pemimpin adaptif yang mampu menjawab tantangan keamanan pada era digital.
Pesan tersebut disampaikan Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo saat menutup pendidikan Sespim, Jumat, 3 Juli 2026. Menurutnya, para lulusan akan menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Sebanyak 418 peserta terdiri atas 57 peserta Sespimti, 201 peserta Sespimmen, 35 peserta Sekolah Pengembangan Profesi Kepolisian (SPPK), dan 125 peserta Sespimma. Seluruhnya akan kembali ke satuan masing-masing untuk mengemban tanggung jawab sebagai calon pemimpin Polri.
"Kelulusan ini merupakan awal pengabdian dan tanggung jawab yang lebih besar. Jadilah pemimpin Polri yang profesional, adaptif, berintegritas, serta mampu menjawab tantangan tugas," ujarnya saat upacara penutupan, Jumat, 3 Juli 2026.
Pendidikan tahun ini juga memperkuat kolaborasi lintas institusi melalui keikutsertaan peserta dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, terdapat peserta dari Kejaksaan Agung, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta Timor Leste.
Wakapolri menjelaskan situasi global masih dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan persaingan antarnegara. Kondisi tersebut berdampak terhadap sektor energi, pangan, logistik, hingga perekonomian nasional.
Menurutnya, Polri memiliki peran penting menjaga stabilitas keamanan nasional agar pembangunan dapat berjalan optimal. Dukungan terhadap program pemerintah juga membutuhkan situasi keamanan yang tetap kondusif.
Selain tantangan global, perkembangan teknologi turut mengubah pola ancaman keamanan. Kejahatan siber, hoaks, disinformasi, hingga penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI) harus diantisipasi sejak dini.
Karena itu, Wakapolri meminta seluruh lulusan meningkatkan kemampuan memanfaatkan teknologi digital dalam pelaksanaan tugas. Penguasaan AI, analisis data, dan Open Source Intelligence (OSINT) dinilai menjadi kebutuhan pemimpin masa depan.
"Pemimpin Polri masa depan harus mampu membaca perubahan zaman dan menguasai teknologi. Kepemimpinan adaptif menjadi kunci menghadapi setiap dinamika yang berkembang," tegasnya.
Wakapolri juga mengingatkan ancaman terorisme dan ekstremisme kini berkembang melalui ruang digital. Karena itu, penguatan deteksi dini dan kontra narasi harus terus dilakukan bersama seluruh pemangku kepentingan.
Sepanjang 2023 hingga 2026, Polri melakukan preventive strike terhadap 265 tersangka dari delapan kelompok teroris. Dalam periode yang sama, Indonesia juga mencatat zero terrorist attack selama tiga tahun berturut-turut.
Mengutip pesan Presiden pada Hari Bhayangkara ke-80, Wakapolri menegaskan kepercayaan masyarakat menjadi kekuatan utama Polri. Hal itu diperkuat hasil Survei Litbang Kompas yang menunjukkan 82,4 persen masyarakat optimistis terhadap kinerja Polri.
"Rekan-rekan adalah wajah Polri di tengah masyarakat. Pegang teguh integritas, junjung profesionalisme, dan hadirkan pelayanan humanis agar kepercayaan publik terus meningkat," pesan Presiden Prabowo.
Pada kesempatan tersebut, Polri juga memberikan penghargaan kepada peserta didik berprestasi dari setiap jenjang pendidikan. Penghargaan diberikan sebagai apresiasi atas prestasi akademik dan kepemimpinan selama mengikuti pendidikan.
Mengakhiri amanatnya, Wakapolri mengajak seluruh lulusan menjaga integritas dan memperkuat sinergi dalam setiap penugasan. Bekal pendidikan diharapkan menjadi modal membangun Polri yang semakin profesional dan dipercaya masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....