Bank Jakarta Siapkan Empat Strategi Wujudkan Kota Inklusif dan Terkoneksi
- 06 Jun 2026 11:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota yang inklusif, terkoneksi, dan berkelanjutan.
- Agus menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital dan pembangunan kota.
- Peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) saat ini telah berkembang menjadi penggerak ekosistem pembangunan
RRI.CO.ID, Jakarta - Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota yang inklusif, terkoneksi, dan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perusahaan sebagai penghubung berbagai elemen pembangunan melalui sistem keuangan yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
Demikian disampaikan Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam kegiatan Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan, Jumat 5 Juni 2026. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Agus, pembangunan Jakarta masa depan tidak cukup hanya ditandai dengan hadirnya gedung pencakar langit, infrastruktur modern, maupun perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Yang lebih penting adalah membangun keterhubungan antara berbagai pemangku kepentingan di dalam kota.
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, jika MRT Jakarta berperan sebagai Mobility Operating System, Transjakarta menjadi platform mobilitas publik, dan PAM Jaya mengelola layanan air. Maka, Bank Jakarta ingin mengambil peran sebagai Financial Operating System bagi Jakarta.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Bank Jakarta mengusung empat strategi utama. Pertama, memperluas inklusi keuangan dengan memastikan seluruh warga Jakarta dapat mengakses layanan keuangan formal yang mudah, aman, dan berbasis digital.
“Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal, ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan,” katanya. Strategi kedua, lanjutnya, adalah memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Agus, dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya melalui pembiayaan. Tetapi juga dengan membantu pelaku usaha masuk ke ekosistem digital, memperluas akses pasar, serta memperkuat rantai pasok.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” ujarnya. Selain itu, Bank Jakarta juga akan memperkuat program housing inclusion atau akses pembiayaan perumahan.
Agus menilai keterjangkauan hunian menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi generasi muda di Jakarta. “Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” katanya.
Strategi keempat adalah investment enablement atau penguatan iklim investasi melalui peningkatan kepercayaan investor. Agus menegaskan pembangunan kota global tidak dapat hanya mengandalkan APBD, tetapi juga memerlukan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” ujarnya.
Agus juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital dan pembangunan kota. Menurutnya, kemajuan teknologi harus mampu membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, hingga keluarga muda yang sedang berupaya memiliki rumah pertama.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” katanya.
Ia menambahkan, peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) saat ini telah berkembang menjadi penggerak ekosistem pembangunan yang mampu memperluas kesempatan bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan,” ujar Agus.
Melalui empat strategi tersebut, Bank Jakarta berharap dapat berkontribusi dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota yang tangguh, cerdas, kompetitif di tingkat global. Sekaligus memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warganya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....