Jemaah Berbagai Daerah Ikuti I’tikaf Qiyamul Lail di Masjid Istiqlal
- 18 Apr 2026 05:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Jemaah dari berbagai daerah memadati Masjid Istiqlal dalam kegiatan I’tikaf Qiyamul Lail bulanan yang berlangsung pada 16–17 April 2026. Kegiatan menjadi momentum spiritual bagi umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui rangkaian ibadah malam.
Sebelum pelaksanaan i’tikaf, jemaah terlebih dahulu melaksanakan salat Magrib berjemaah, dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin, selawat, serta istigasah bersama. Suasana semakin syahdu saat jemaah kembali berkumpul untuk menunaikan salat Isya berjamaah
I’tikaf dimulai pada pukul 01.40 dan selesai 04.00 WIB, diisi dengan rangkaian ibadah seperti salat tasbih, tahajud, dan witir. Salat tasbih dilaksanakan sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam.
Sementara salat tahajud dilakukan delapan rakaat dengan empat kali salam, serta ditutup dengan salat witir tiga rakaat disertai doa qunut. Kegiatan juga diisi dengan zikir bersama yang dipimpin oleh bilal.
Dalam kesempatan tersebut, tausiah disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal, Mas’ud Halimin, dengan tema “Teologi Memaafkan”. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan akhlak atau karakter merupakan sesuatu yang telah mendarah daging dan menjadi kebiasaan dalam diri seseorang.
Ia menekankan empat sifat memaafkan yang diperkenalkan Allah SWT dan dianjurkan untuk diteladani umat Nabi Muhammad Saw. Pertama, Al-Ghafur, yaitu menutupi dosa dan kesalahan sehingga aib tidak terlihat.
Kedua, Al-Afuw, yaitu menghapus dosa hingga tidak lagi melekat dan tidak tercatat. Ketiga, At-Taubah, yaitu kesadaran untuk menyesali perbuatan dan kembali ke jalan yang benar.
Keempat, Ar-Rahman Ar-Rahim, yaitu memberikan kasih sayang dan cinta kepada sesama. “Jangan menyimpan kemarahan, kebencian, apalagi dendam," katanya.
Dalam sesi renungan, jemaah diajak memahami mengapa memaafkan terasa sulit. Hal ini karena memaafkan menuntut tiga hal sekaligus.
Yakni keberanian psikologis untuk menghadapi luka, kerendahan ego untuk melepaskan keakuan, serta kedalaman spiritual dalam meneladani sifat-sifat Tuhan. Lebih lanjut, dijelaskan, memaafkan merupakan bagian dari “tazkiyatun nafs” atau penyucian jiwa, yakni membersihkan hati dari amarah, dendam, dan emosi berlebihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....