AJI Indonesia Nilai Tekanan terhadap Jurnalis Perempuan Masih Tinggi

  • 11 Apr 2026 18:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis, khususnya perempuan.
  • Ia menilai tekanan terhadap jurnalis perempuan masih cukup tinggi.

RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida membeberkan tantangan yang dihadapi jurnalis, khususnya perempuan. Ia menilai tekanan terhadap jurnalis perempuan masih tinggi.

Menurutnya, jurnalis perempuan lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender. Mereka juga menghadapi diskriminasi di ruang redaksi dan beban kerja ganda.

Ia menambahkan perlindungan kerja bagi jurnalis perempuan masih belum optimal. Selain itu, serangan di ruang digital juga semakin meningkat.

Nany menyebut jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru sekitar 21,5 persen. Angka ini menunjukkan masih adanya ketimpangan dalam industri media.

Ia menilai ketidakadilan juga terjadi dalam hal remunerasi dan pembagian tugas liputan. Kondisi ini mencerminkan persoalan yang bersifat struktural.

“Diskriminasi ini bersifrsifat ssatat sistemik bukan kasus individual jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan baik fisik maupun digital juga masih tinggi dan sering dinormalisasikan serta mekanisme di ruang redaksi juga lemah,” kata Nany saat sesi dialog dalam gelaran Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, Irsyan Hasyim, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjawab tantangan tersebut. Kegiatan Pesta Media diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat peran jurnalisme.

Ia mengatakan isu lingkungan dan kebebasan pers menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Menurutnya, kedua isu tersebut saling berkaitan dalam konteks keberlanjutan.

“Pesta Media ini diselenggarakan dengan berkolaborasi bersama berbagai pihak untuk menghadapi ancaman krisis iklim. Itu salah satu tujuan utama setelah hiatus 14 tahun,” ujarnya.

Irsyan berharap kegiatan ini dapat digelar secara rutin setiap tahun. Hal ini untuk memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kesadaran publik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....