Pesta Media AJI Jakarta 2026 Angkat Isu Iklim dan Lingkungan
- 11 Apr 2026 18:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengangkat isu krisis iklim dalam Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
- Kegiatan berlangsung selama dua hari pada tanggal 11 hingga 12 April 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengangkat isu krisis iklim dalam Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan berlangsung selama dua hari pada tanggal 11 hingga 12 April 2026.
Acara ini mengusung tema “Facing for Future, Collaboration for Our Nature”. Tema tersebut menyoroti tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Ketua AJI Jakarta, Irsyan Hasyim, menilai kolaborasi lintas sektor sangat penting. Ia menyebut kerja sama dibutuhkan untuk menghadapi krisis iklim.
“Pesta Media ini diselenggarakan dengan berkolaborasi bersama berbagai pihak untuk menghadapi ancaman krisis iklim. Itu salah satu tujuan utama setelah hiatus 14 tahun,” ujarnya dalam pembukaan Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Ia menambahkan kegiatan ini menandai kembalinya Pesta Media setelah vakum 14 tahun. AJI Jakarta berharap kegiatan ini memberi dampak luas.
Irsyan juga mengajak semua pihak mendukung Festival Media AJI Indonesia. Kegiatan itu direncanakan berlangsung di Batam pada September 2026.
“Ke depannya, kami berharap ini bisa menjadi agenda tahunan AJI Jakarta,” ucapnya. Harapan ini sejalan dengan upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Pesta Media 2026 menghadirkan diskusi publik, pameran foto, dan lokakarya. Selain itu, ada pemutaran film serta pertunjukan seni.
Topik diskusi mencakup jurnalis perempuan dan kondisi industri media. Selain itu, dibahas konservasi satwa liar dan dampak industri ekstraktif.
Lokakarya khusus jurnalis juga digelar dalam kegiatan ini. Materinya meliputi personal branding dan jurnalisme solusi.
Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, menyoroti kondisi jurnalis yang masih menghadapi berbagai tekanan. Ia menilai jurnalis perempuan menghadapi tantangan yang lebih kompleks di lapangan.
Menurutnya, jurnalis perempuan rentan mengalami kekerasan berbasis gender dan diskriminasi di ruang redaksi. Mereka juga menghadapi beban kerja ganda serta perlindungan kerja yang masih lemah.
Ia menyebut jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru sekitar 21,5 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya ketimpangan struktural dalam industri media.
Selain itu, jurnalis perempuan masih menghadapi ketidakadilan dalam hal upah dan pembagian tugas liputan. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian bersama.
“Diskriminasi ini bersifat sistemik bukan kasus individual jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan baik fisik maupun digital juga masih tinggi dan sering dinormalisasikan serta mekanisme di ruang redaksi juga lemah,” kata Nany.
Kegiatan ini melibatkan lembaga lingkungan, media, dan perguruan tinggi. Puluhan stan disediakan sebagai ruang interaksi peserta.
Panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan selama dua hari pelaksanaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....