Aktivitas Meningkat, Gunung Semeru Masih Berstatus Siaga
- 05 Apr 2026 00:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gunung Semeru hingga kini masih berstatus level tiga atau siaga karena adanya peningkatan aktivitas vulkanik.
- Karakteristik erupsi berupa ketinggian kolom abu yang bervariasi sangat bergantung pada pergerakan arah angin di wilayah puncak.
- Petugas mengimbau warga di area tenggara serta penambang agar selalu mewaspadai ancaman kemunculan aliran awan panas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur hingga saat ini masih bertahan pada status level tiga atau siaga. Peningkatan aktivitas vulkanik tersebut menunjukkan karakteristik letusan yang sangat bervariasi dengan kolom abu yang terus berubah.
Petugas pos pengamatan menjelaskan erupsi memiliki ciri khas berupa tinggi kolom yang berfluktuasi setiap harinya. Fenomena ini sering terjadi tergantung pada kekuatan embusan angin serta arah pergerakan material di area kawah gunung.
“Letusan sudah menjadi karakteristik dengan ketinggian kolom berkisar 400 meter. Akhir-akhir ini mencapai hingga 1.000 meter, bergantung pada arah angin,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Liswanto saat berbincang dengan Pro3 RRI, Sabtu, 4 April 2026.
Liswanto mengingatkan warga agar tetap mewaspadai segala bentuk potensi bahaya dari kemunculan awan panas guguran (APG) mendadak. Risiko bencana semakin besar jika terdapat penumpukan material sisa yang berupa lidah lava panas pada puncak kawah.
| Baca juga: Semeru Erupsi, Kolom Abu Capai 500 Meter |
“Pemantauan dilakukan secara visual untuk melihat apakah ada endapan atau tumpukan lidah lava. Jika endapan mulai terbentuk, maka potensi awan panas bisa terjadi, apalagi jika intensitas guguran lava meningkat,” katanya.
Wilayah yang berpotensi terkena dampak material erupsi tersebut terletak di sepanjang aliran sektor bagian tenggara gunung itu. Daerah terdampak meliputi aliran Besuk Kobokan yang menuju Kecamatan Candipuro serta kawasan Kabupaten Lumajang di Jawa Timur.
Pihak berwenang juga terus memantau perubahan kondisi visual dari kejauhan guna melihat pergerakan dari arah lontaran abu. Arah sebaran debu vulkanik tersebut sangat dipengaruhi embusan angin kencang yang sedang terjadi di area puncak.
“Informasi ini turut dibagikan kepada otoritas penerbangan guna mengantisipasi dampak terhadap jalur udara. Pihak berwenang juga telah membagikan rekomendasi kepada masyarakat, terutama bagi warga yang berada di kawasan serta mereka yang beraktivitas di area tambang,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....