Hangatnya Lebaran di Desa Agusen Aceh Bersuhu 13 Derajat Celcius

  • 21 Mar 2026 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • takbir menyelimuti Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Sabtu 21 Maret 2026
  • Ratusan warga Aceh penyintas banjir bandang merayakan Idulfitri 1447 H di tengah suhu dingin yang mencapai 13 derajat Celcius.

RRI.CO.ID, Gayo Lues - Gema takbir menyelimuti Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Sabtu 21 Maret 2026. Ini terjadi saat ratusan warga penyintas banjir bandang merayakan Idulfitri 1447 H di tengah suhu dingin yang mencapai 13 derajat Celcius.

Sejak pukul 05.00 WIB, warga mulai keluar dari hunian masing-masing untuk menjalankan tradisi silaturahmi. Mereka saling mengunjungi, diawali dari rumah warga yang dituakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga adat istiadat setempat.

Suasana hangat terasa di tengah keterbatasan. Sabedah (41), salah satu warga, ikut dalam tradisi tersebut dengan mendatangi rumah tetua kampung untuk saling bermaafan bersama warga lainnya.

Meski sederhana, momen itu penuh keakraban—warga saling bersalaman dan berpelukan layaknya keluarga sendiri. Di sisi lain, Rahmat (62), seorang tetua desa, telah bersiap di depan hunian sementara (huntara) bersama anak dan cucunya.

Dengan senyum ramah, ia menyambut warga yang datang sebelum bersama-sama berjalan menuju lapangan terbuka untuk melaksanakan shalat Id berjamaah. Warga berjalan beriringan menyusuri jalan tanah merah berbatu menuju lokasi shalat yang berada di bawah perbukitan tempat huntara dibangun.

Mereka membaur dengan warga lain yang memilih kembali ke rumah yang telah direnovasi pascabanjir. Di tengah perjalanan, ungkapan syukur dan harapan terdengar dari para warga.

“Syukurnya ratusan warga Agusen tidak ada korban jiwa. Allah SWT masih sayang dengan kita,” ujar seorang warga, disambut harapan dari warga lain agar kehidupan segera pulih seperti sediakala.

Setibanya di lokasi, warga menggelar sajadah dan alas seadanya. Kaum perempuan membentangkan tikar dan karpet dari huntara, sementara yang lain membantu merapikan barisan di atas tanah berpasir dan berbatu.

Anak-anak duduk berkelompok di samping orang tua mereka, menyaksikan suasana dengan penuh rasa ingin tahu. Meski fasilitas terbatas, kekhusyukan tetap terjaga.

Barisan jemaah tersusun rapi menghadap kiblat dengan latar perbukitan hijau yang mengelilingi desa, menciptakan suasana religius yang menenangkan. Usai shalat, warga kembali saling bersalaman dan bermaafan.

Kehangatan kebersamaan terasa kuat, menjadi penawar di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan santap bersama di hunian maupun rumah masing-masing.

Hidangan khas seperti rendang, lontong, gulai kari, dan lemang dengan aroma rempah khas Gayo menambah kehangatan Hari Raya. Desa Agusen sendiri merupakan salah satu wilayah yang terdampak signifikan akibat banjir bandang pada akhir November 2025.

Dari total 279 kepala keluarga, seluruhnya terdampak bencana. Sebanyak 155 kepala keluarga kini masih menempati huntara karena rumah mereka rusak parah hingga hanyut.

Sementara sisanya bertahan dengan memperbaiki rumah lama menggunakan material sisa banjir. Di tengah keterbatasan, Idulfitri tahun ini menjadi simbol keteguhan dan kebersamaan warga Agusen dalam bangkit dari bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....