'Nuklir Iran' Ramaikan Tradisi Unik Malam Takbiran di Desa Kepuh Bawean

  • 20 Mar 2026 22:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Malam takbiran di Desa Kepuh, Pulau Bawean, kembali berlangsung meriah dengan tradisi arak-arakan unik pada Malam Idulfitri 1447 H, Jumat 20 Maret 2026
  • Bagi masyarakat Desa Kepuh, arak-arakan malam takbiran bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh makna dalam menyambut perayaan malam Idulfitri 1447 H.
  • Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Desa Kepuh, Kecamatan Tambak, Bawean, Kabupaten Gresik.

RRI.CO.ID, Bawean - Malam takbiran di Desa Kepuh, Pulau Bawean, kembali berlangsung meriah dengan tradisi arak-arakan unik pada Malam Idulfitri 1447 H, Jumat 20 Maret 2026. Tahun ini, perhatian warga tertuju pada replika “nuklir Iran” yang ikut diarak sebagai bagian dari ekspresi kreativitas pemuda setempat.

Tak sekadar hiasan, replika Rudal GEMPA tersebut menjadi simbol dukungan terhadap Iran di tengah isu konflik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, arak-arakan juga diramaikan dengan berbagai bentuk lain seperti pesawat tempur, kereta kencana, hingga beragam karakter unik lainnya.

Sejak malam hari ba'da sholat Isya', warga sudah memadati pinggir jalan utama desa untuk menyaksikan parade. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, terutama karena setiap tahun tema dan karakter yang ditampilkan selalu berbeda, menghadirkan kejutan tersendiri.

Proses pembuatan karya-karya tersebut dilakukan para pemuda sejak pertengahan bulan Ramadan. Mereka memanfaatkan bahan sederhana seperti bambu untuk rangka, kertas untuk membentuk karakter, lalu dicat dan dihiasi lampu serta ornamen lainnya.

Tak jarang, setiap arakan juga dilengkapi dengan sound system yang mengiringi dari belakang. Gema takbir 'Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar' menggema sepanjang jalan utama desa.

Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Desa Kepuh, Kecamatan Tambak, Bawean, Kabupaten Gresik. Setiap perdukuhan biasanya menampilkan karya terbaik mereka, mulai dari kartun hewan nyata maupun mitologi, hingga miniatur bangunan dan kendaraan.

Saat acara malam takbiran tiba, karya-karya itu dinaikkan ke atas gerobak dan ditarik menggunakan mobil bak terbuka untuk diarak keliling desa. Rute arak-arakan dimulai dari arah selatan, tepatnya Dusun Tajung, Desa Legundi, serta dari sisi utara yang dimulai dari Dusun Pasir Panjang, Kepuh Teluk.

Kedua arus kemudian berputar dan kembali ke dusun masing-masing setelah parade usai. Menariknya, seluruh biaya pembuatan ditanggung secara swadaya oleh para pemuda.

Warga turut berpartisipasi dengan memberikan iuran seikhlasnya demi mendukung keberlangsungan tradisi ini. Setiap rumah ditarik iuran secara sukarela untuk membiayai replika pilihan masing-masing dusun.

Bagi masyarakat Desa Kepuh, arak-arakan malam takbiran bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh makna. Tradisi ini kerap menjadi kenangan berharga, terutama bagi para perantau dari luar kota maupun luar negeri yang pulang kampung demi berlebaran bersama keluarga di kampung halaman.

Panitia Malam Takbiran Desan Kepuh, Reza Fahlevi menyatakan, kegiatan ini diharapkan terus dijaga setiap tahun. Sekaligus, menjadi wadah untuk mengasah kreativitas generasi muda serta mempererat silaturahmi antarperdukuhan.

"Dengan semangat kebersamaan, tradisi ini menjadi cara masyarakat setempat menjaga harmoni antarwarga. Sekaligus menghindarkan pemuda dari aktivitas negatif selama perayaan Malam Takbiran Lebaran Idulfitri," ujar Reza.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....