Lebaran Sederhana di Agam, Warga Tetap Jalin Silaturahim Pascabencana
- 20 Mar 2026 19:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Warga di sejumlah nagari di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, berlebaran Idulfitri secara sederhana di tengah pemulihan bencana
- Meski masih dibayangi dampak bencana, semangat kebersamaan dan silaturahim warga di Agam tetap terjaga.
- warga tetap saling mengunjungi, menciptakan nuansa Idulfitri yang lebih terasa dari tahun sebelumnya.
RRI.CO.ID, Agam - Warga di sejumlah nagari di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, berlebaran Idulfitri secara sederhana di tengah pemulihan bencana. Tradisi silaturahim tetap dilakukan meski suasana perayaan tahun ini berbeda dari biasanya, akibat dampak bencana banjir bandang pada November 2025 lalu.
Di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, masyarakat melaksanakan shalat Idulfitri pada Jumat 20 Maret 2026. Usai ibadah, warga saling bermaaf-maafan sebelum kembali ke rumah masing-masing tanpa perayaan meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di salah satu sudut kampung, suasana Lebaran tampak berbeda. Warga yang tinggal di tepi sungai yang kini kering dan dipenuhi bebatuan merayakan hari raya dengan keterbatasan.
Sejumlah rumah masih menyisakan bekas bencana, tertutup material batu besar yang terbawa arus banjir bandang. “Kalau sekarang kita maklumi, ada yang pindah dari kampung di sini, jadi terasa berbeda dari suasana tahun dulu," kata Amin.
"Kemeriahan dalam keadaan seperti ini, ke rumah sanak saudara yang masih terjangkau saja,” ujarnya menambahkan. Ia membiarkan pintu rumahnya terbuka sebagai tanda siap menerima tamu.
Di ruang tamunya, hanya tersedia kue Lebaran bantuan yang ditata sederhana. Hidangan khas seperti ketupat dan rendang pun berasal dari bantuan.
Suasana kampung terlihat lengang, jauh dari keramaian Lebaran pada umumnya. Sementara itu, kondisi berbeda tampak di Jorong Bancah, Nagari Maninjau.
Aktivitas warga yang saling mengunjungi masih berlangsung, menciptakan nuansa Idul Fitri yang lebih terasa. Rina, salah seorang warga, terlihat sibuk bersilaturahim dengan tetangga yang juga merupakan kerabatnya.
Di rumah orang tuanya, ia menyajikan biskuit dan kue sederhana untuk menyambut tamu. Rumah tersebut sebelumnya sempat terendam banjir dengan ketinggian cukup signifikan.
Bekas lumpur kini telah dibersihkan dan ditumpuk di sisi rumah. Bahkan menutup kolam empang milik keluarga.
“Paling hanya silaturahim ke sanak saudara, ke keluarga, ke rumah amak. Tidak ada yang spesial, tetapi silaturahim tetap dilakukan ke rumah yang dekat-dekat saja,” katanya.
Di tengah kondisi pemulihan, tradisi khas anak-anak Minangkabau tetap berlangsung. Sejumlah anak terlihat melakukan “manambang”, yakni berkeliling dari rumah ke rumah untuk menerima uang tunjangan hari raya (THR).
Mereka berjalan dari keluarga dan tetangga sekitar. Tradisi ini masih menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Ranah Minang.
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak 272 unit bangunan di Nagari Sungai Batang mengalami kerusakan. Mulai dari ringan hingga berat, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp98,7 miliar.
Sementara di Nagari Maninjau, dampak bencana tercatat lebih kecil, dengan dua unit rumah hanyut dan 115 unit lainnya mengalami kerusakan. Total kerugian di wilayah ini diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar.
Meski masih dibayangi dampak bencana, semangat kebersamaan dan silaturahim warga tetap terjaga. Ini menjadi penguat di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....