Pemprov DKI Sebut Kecelakaan TransJakarta Murni 'Human Error'
- 23 Feb 2026 17:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, kecelakaan dua unit bus TransJakarta pada Senin, 23 Februari 2026 pagi tadi. Menurutnya, kecelakaan TransJakarta di rute Tegal Mampang menuju JORR merupakan disebabkan human error.
Bus dengan kode BMP 220263 yang dikemudikan oleh sopir bernama Yayan diduga kehilangan kendali. Akhirnya bus tersebut masuk ke lajur berlawanan hingga bertabrakan dengan bus BMYS 17100.
“Ini human error, bukan karena apa-apa. Mungkin kurang tidur sehingga bus menyebrang atau melawan arah,” ujar Pramono, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin, 23 Februari 2026.
Akibat kecelakaan tersebut, sebanyak 23 penumpang mengalami luka-luka. Dua korban dirujuk ke RS Bakti Asih, sementara 21 lainnya mendapatkan perawatan di RS Sari Asih.
Pemprov DKI memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh oleh TransJakarta. Dan pihaknya juga akan melakukan evaluasi terkait kecelakaan tersebut.
Menanggapi informasi bahwa sopir bekerja selama dua hari, Gubernur menyebut manajemen operasional TransJakarta selama ini telah berjalan cukup rapi. Namun demikian, evaluasi tetap akan dilakukan untuk memastikan sistem pengaturan jam kerja dan kondisi fisik pengemudi benar-benar optimal.
“Karena aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam layanan transportasi publik ibu kota. Dan langkah perbaikan akan terus dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang,” ujar Pramono.
Sementara, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menganggap kecelakaan transjakarta tersebut hal serius yang harus ditangani. Sekretaris DTKJ, Adrianus Satrio Adi Nugroho menekankan bahwa insiden di jalur yang sepenuhnya steril dan terpisah dari kendaraan lain ini mengindikasikan adanya celah serius.
"Secara logika transportasi, kecelakaan di jalur yang sudah steril dan terproteksi seperti Koridor 13 ini seharusnya tidak terjadi. Apabila sistem manajemen pergerakan bus berjalan secara optimal,” ucapnya.
“Jalur layang ini dibangun untuk menjamin keamanan dan kecepatan, namun insiden 'adu banteng' ini menjadi indikator kuat. Karena sistem pengawasan dan kendali operasional saat ini memerlukan tinjauan mendalam," ujar Adrianus menambahkan.
Sorotan pada Manajemen Kelelahan Pramudi Adrianus menyoroti bahwa rentetan kecelakaan belakangan ini. Termasuk insiden di Cipulir, tidak dapat dilepaskan dari aspek kondisi kerja pramudi di lapangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....