Pemkot Tangerang Tetapkan Status 'Awas' Banjir

  • 20 Feb 2026 17:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Tangerang - Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menetapkan status 'merah/awas' ketinggian muka air sungai. Pasalnya, cuaca ekstrem masih menghantui yang berpotensi banjir pada 21 titik pada delapan kecamatan.

Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni mengatakan penetapan status ini sebagai peringatan dini kepada masyarakatnuntuk siaga menghadapi potensi banjir. ”Kami telah melakukan pemantauan sekaligus memberikan peringatan dini di tengah curah hujan yang masih tinggi," ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.

Taufik menyebutkan telah adanya peningkatan ketinggian muka air sungai dan saluran air pascahujan lebat tadi malam. Misalnya saja sejumlah titik sudah melimpah seperti di Jembatan Alamanda Periuk, Taman Cibodas, Puri Kartika Ciledug dan sebagainya.

”Kami berharap ketinggian muka air sungai dan saluran air ini berangsur surut seiring dengan berhentinya hujan sejak pagi ini. Namun, kami tetap mengimbau kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi meningkatkan aksi mitigasi banjir dengan melakukan pemantauan melalui aplikasi Si Pantau secara berkala," kata dia.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar mengaku hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kota Tangerang sejak kemarin mengakibatkan banjir di sejumlah titik serta kejadian pohon tumbang Air mulai menggenang sejak sekitar pukul 03.00 WIB akibat meningkatnya debit air kali atau sungai yang meluap ke jalan dan permukiman warga.

“Ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga 50 sentimeter. Berdampak pada akses jalan umum, kawasan permukiman, hingga kawasan industri,” ujar Mahdiar.

Delapan kecamatan yang terdampak meliputi Jatiuwung, Cibodas, Cipondoh, Periuk, Ciledug, Larangan, Karang Tengah, dan Benda. Selain banjir, terdapat kejadian pohon tumbang yang sempat menutup akses jalan dan menimpa bangunan warga.

Petugas gabungan yang terdiri atas BPBD, Damkar, OPD terkait, aparat kewilayahan, serta relawan langsung melakukan asesmen dan penanganan di lokasi. “Langkah yang dilakukan meliputi monitoring lapangan, koordinasi lintas instansi, penyedotan genangan di fasilitas umum, pengerahan personel dan perahu evakuasi, bantuan mobilisasi warga, hingga evakuasi dan pemotongan pohon tumbang yang membahayakan,” kata Mahdiar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....