Capgomeh Pulau Kemaro, Perpaduan Sakral dan Kemeriahan Tradisi

  • 10 Feb 2025 04:12 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Palembang: Pulau Kemaro di Palembang kembali menjadi pusat perayaan budaya Tionghoa dengan digelarnya ritual Capgomeh. Yakni, sebuah tradisi penghormatan kepada leluhur yang berlangsung 15 hari setelah Tahun Baru Imlek.

Tahun ini, puncak perayaan Capgomeh jatuh pada Senin dan Selasa, 11-12 Februari 2025, menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Pulau yang terletak di tengah Sungai Musi ini diselimuti cahaya lampion yang menghiasi setiap sudut, menciptakan suasana yang sakral sekaligus penuh kemeriahan.

Mini, seorang pengunjung yang baru pertama kali menghadiri Capgomeh, mengungkapkan kekagumannya terhadap atmosfer di Pulau Kemaro. "Saya benar-benar takjub melihat banyaknya warga Tionghoa yang datang untuk beribadah dan memberikan persembahan kepada leluhur mereka. Suasananya begitu khidmat," ujarnya, Minggu (9/2/2025).

Ia juga terpesona dengan kemegahan pagoda bertingkat yang dihiasi naga kembar, ikon khas Pulau Kemaro. Tak hanya ritual sembahyang, Capgomeh juga dimeriahkan dengan berbagai atraksi budaya.

Pengunjung disuguhkan pertunjukan barongsai dan wushu yang atraktif, yang menambah semarak perayaan. Beragam kuliner khas seperti bakpao, kwetiau goreng, dan kue keranjang yang dijajakan oleh pelaku UMKM juga menjadi daya tarik tersendiri. Hidangan-hidangan ini laris manis diburu oleh pengunjung yang ingin mencicipi cita rasa khas Imlek.

Pulau Kemaro juga menyimpan kisah legendaris yang menarik perhatian para wisatawan. Para sesepuh yang hadir dalam acara ini kerap berbagi cerita tentang sejarah pulau ini, termasuk legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah, yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Palembang.

"Saya baru tahu ada kisah cinta di balik Pulau Kemaro ini. Jadi, makin penasaran untuk kembali lagi tahun depan," ucapnya antusias.

Selain menjadi pusat spiritual dan budaya, perayaan capgome juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar. Banyaknya pedagang yang menjajakan suvenir khas seperti mainan barongsai kepala naga, kucing menggapai, dan hiasan lampion, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Keberadaan UMKM di sekitar lokasi tidak hanya menambah kemeriahan acara. Namun, juga membantu meningkatkan perekonomian lokal.

Dengan suasana yang penuh cahaya lampion, aroma dupa yang khas, serta antusiasme masyarakat yang tinggi, Capgomeh di Pulau Kemaro bukan sekadar perayaan, melainkan wujud nyata pelestarian budaya dan harmoni antarwarga di Palembang. Tak hanya bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin merasakan keajaiban tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun di kota ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....