Mengenal Yadnya Kasada, Ritual Adat Masyarakat Tengger

  • 18 Des 2024 15:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Ritual adat Yadnya Kasada atau biasa dikenal juga dengan sebutan Kasada Bromo merupakan rangkaian ritual tahunan masyarakat Tengger. Diketahui, ada empat kabupaten di Jawa Timur yang mengikuti ritual adat ini, diantaranya, Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo.

Detilnya, Kasada dilaksanakan pada hari ke-15 dalam bulan Kasada atau bukan ke-12 dalam penanggalan orang Tengger. Umumnya, mereka berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) kaki Gunung Bromo.

Dalam perjalanan ritualnya, masyarakat Tengger berjalan kaki membawa berbagai sesajian menuju kawah. Di sini, mereka akan melempar sesajian berupa buah-buahan, sayuran, hewan ternak, dan hasil bumi lainnya ke kawah.

Menurut masyarakat Tengger, ini merupakan simbol pengabdian pada Sang Hyang Widhi, dan pengorbanan. Adapun yang menganggapnya sebagai penyucian diri, rasa syukur, penjagaan hubungan harmonis dengan alam, dan penghormatan pada leluhur.

Masyarakat Tengger telah menggelar Yadnya Kasada sejak kehadiran mereka di Tengger pada masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 M. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan adanya banyak versi tentang asal-uaul orang Tengger.

Menurut jurnal 'Legenda dan Religi Sebagai Media Integrasi Bangsa', menyebutkan dia versi, yaitu legenda dan sejarah. Versi legenda Tengger berasal dari gabungan nama dua leluhur mereka, yaitu Rara Anteng (Teng), dan Joko Seger (Ger).

Keduanya bukanlah orang biasa, mereka merupakan anak dari Raja Brawijaya dan Brahmana Kediri. Kedua lalu menikah dan hidup di sekitar wilayah Penanjakan, tidak jauh dari Gunung Bromo.

Tapi mereka tak punya anak untuk waktu lama. Hingga akhirnya mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Hingga kemudian, keduanya berjanji jika punya anak, salah satu anaknya akan dikorbankan. Tidak lama kemudian, Rara Anteng hamil dan melahirkan yang kemudian anaknya berjumlah 25 orang.

Setelah lahir, salah seorang anak mereka, Raden Kusuma, menghilang. Mereka kemudian mendengar suara Raden Kusuma keluar dari kawah Gunung Bromo.

Rahasia Hidup Sejahtera Masyarakat Tengger

Keturunan Rara Anteng dan Joko Seger atau disebut masyarakat Tengger dapat hidup aman sejahtera. Hal ini dikarenakan pada wkatu tertentu mereka memberi korban ke kawah Gunung Bromo.

Maksud dari 'memberi korban' adalah memberikan sebagain hasil panen dan ternah ke kawah Bromo. Yang kemudian inilah yang menjadi asal-usul upacara Yadnya Kasada.

Dalam versi sejarah, ada sejumlah prasasti di wilayah Gunung Bromo dan Negarakertagama tentang masyarakat Tengger. Prasasti tersebut tertulis orang tengger bermukim dikawasan Tengger sejak masa Majapahit.

Menurut disertasi 'Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumahang' tahun 1997, orang Tengger hidup sebagai petani tangguh. Alam pegunungan yang dingin menempa mereka bekerja sepanjang hari.

Inilah yang menjadikan hasil panen mereka melimpah dan kebutuhan mereka tercukupi oleh alam sekelilingnya. Ini yang menjadikan mereka menghormati alam dan berusaha menjaga hubungan harmonis.

Gunung Bromo merupakan gunung yang berkawah rendah diantara gunung lain dikawasan Tengger. Sehingga masyarakat Tengger menjadikan Gunung Bromo suci.

Pewarisan Ritual Yadnya Kasada

Ritual adat Yadnya Kasada kemudian bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahkan, beberapa pengamat asing mencatat jalannya upacara ini sejak abad ke-19 hingga 20 Masehi.

Ritual adat yang selalu menjadi agenda penting masyarakat Tengger tidak berubah. Yang berubah hanya bentuk sesaji dan rangkaian acaranya.

Aslinya, upacara Yadnya Kasada tidak memiliki rangkaian acara lain. Namun, memasuki 1980-an, orang Tengger mulai menambahkan sejumlah tarian dan musik tradisional.

Upacara Pelaksanaan Yadnya Kasada

Dalam ritual adat Yadnya Kasada, upacara tersebut memiliki tiga tahapan besar. Pertama pengawalan pengambilan air yang diikuti dengan tidak tidur secara bergantian dan diakhiri dengan menyucikan alat Kasada.

Kedua, pembukaan Kasada berupa pertunjukan Sendratari. Kemudian diakhiri cara ketiga, dengan membuang sesaji ke kawah secara beriringingan dan berbaris.

Setelah upacara selesai, sesaji dibawa ke kaki Gunung Bromo ke atas kawah. Setelah itu, mereka melemparkan ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....