Menjaga Ladang, Menjaga Iman

  • 09 Mar 2026 13:42 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Fajar belum sepenuhnya merekah ketika suara azan Subuh menggema dari Masjid maupun surau kecil di ujung desa. Udara masih sejuk, embun menggantung di ujung daun-daun muda. Di waktu yang bagi sebagian orang masih terlelap, seorang petani telah bersiap memulai hari. Ramadan 1447 Hijriah tidak mengubah rutinitasnya. Selepas sahur dan salat Subuh, ia menggulung lengan baju, mengenakan topi lusuhnya, lalu melangkah menuju ladang yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah yang sedikit becek sisa hujan semalam. Di kiri kanan, hamparan kebun membentang, sebagian sudah siap panen, sebagian lagi baru ditanami. Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya.Hasanudin Petani Desa Harapan Jaya Kecamatan Bunguran Tengah kepada RRI mengatakan Bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang telah ia tekuni sejak muda.

“Sudah lebih dari sepuluh tahun saya bertani ,Dari dulu sampai sekarang ya inilah yang saya kerjakan,'' ujar Hasanudin Sabtu 7 Maret 2026.

Tanaman sayur dan palawija menjadi andalan. Cabai, terong, kacang panjang, hingga jagung ditanam bergantian mengikuti musim. Setiap jenis tanaman memiliki karakter berbeda, begitu pula tantangannya. Namun satu hal yang sama: semuanya membutuhkan ketelatenan dan tenaga yang tidak sedikit.

Di bulan Ramadan, ritme kerjanya sedikit berubah. Jika biasanya ia berada di ladang hingga sore menjelang magrib, kini ia berusaha menyelesaikan pekerjaan berat lebih awal.

“Kalau puasa, saya mulai lebih pagi. Jam enam sudah di ladang. Jadi siang tidak terlalu banyak kerja berat,” katanya.

Matahari perlahan meninggi. Sinar keemasan berubah menjadi terik yang menyengat. Peluh mulai membasahi keningnya. Tangan kasarnya tak berhenti mencabut gulma yang tumbuh liar di sela tanaman. Tanah yang kering dipecah dengan cangkul, memastikan akar tanaman tetap mendapatkan air dan udara yang cukup.

Menahan lapar mungkin sudah biasa baginya. Namun rasa haus di bawah terik matahari menjadi ujian tersendiri. Tenggorokan terasa kering, tubuh mulai lemas, apalagi jika angin tak berembus sama sekali. Ia mengakui, di sinilah kesabaran benar-benar diuji.

“Yang paling terasa itu haus. Apalagi kalau panas sekali,Tapi kalau sudah diniatkan ibadah, insyaallah kuat,” ujarnya.

Ia mengatur napas dan tempo kerja. Tidak memaksakan diri, namun juga tidak bermalas-malasan. Setiap kali rasa lelah datang, ia berhenti sejenak, duduk di bawah pohon atau berteduh di gubuk kecil di pinggir ladang.

Di sana, ia mengusap wajahnya dengan handuk kecil, memandang tanaman yang tumbuh perlahan, seolah menyemangati dirinya sendiri.

Baginya, bekerja di bulan Ramadan memiliki makna berbeda. Setiap keringat yang jatuh terasa lebih bernilai. Ia percaya, bekerja untuk menafkahi keluarga juga bagian dari ibadah. Puasa bukan alasan untuk berhenti berusaha.

“Kalau kita tidak ke ladang, tanaman bisa rusak. Rumput cepat tumbuh. Air harus diatur. Jadi tetap harus dijaga,” tambahnya.

Tanggung jawab itu yang membuatnya terus melangkah. Tanaman tidak mengenal bulan puasa. Mereka tetap membutuhkan air, pupuk, dan perhatian. Jika terlambat satu hari saja, hasilnya bisa berkurang saat panen nanti.

Meski begitu, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan. Selepas zuhur, ia biasanya pulang lebih awal dibanding hari biasa. Di rumah sederhana yang tak jauh dari ladang, sang istri telah menunggunya. Istrinya menjadi penyemangat terbesar selama Ramadan.

“Istri selalu siapkan sahur. Kadang sederhana saja, tapi itu sudah cukup,” katanya sambil tersenyum.

Menjelang sore, suasana rumah berubah lebih hangat. Anak-anak mulai berkumpul. Aroma masakan sederhana menyeruak dari dapur. Ia membantu menyiapkan meja berbuka, kadang membersihkan halaman, atau sekadar duduk berbincang dengan keluarga. Momen berbuka bersama menjadi saat yang paling ditunggu setelah seharian bekerja.

“Capeknya hilang kalau sudah buka sama keluarga,” tuturnya.

Ramadan juga mengajarkannya tentang pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi ketika menghadapi masalah di ladang. Harga pupuk yang mahal, cuaca yang tak menentu, atau hama yang menyerang tanaman bisa menjadi beban pikiran. Namun ia mencoba menerima semuanya dengan lapang dada.

“Kalau marah atau mengeluh terus, tidak akan selesai. Lebih baik sabar dan cari jalan keluar,” katanya.

Musim kemarau menjadi tantangan tambahan. Air sulit didapat, sumur mulai surut, dan ia harus lebih sering mengangkut air untuk menyiram tanaman. Tenaga yang terkuras terasa berlipat saat berpuasa. Namun ia percaya, setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Di sela aktivitasnya, ia kerap merenung. Ladang mengajarkannya tentang kesabaran. Menanam tidak bisa instan. Benih yang ditanam hari ini tidak akan langsung berbuah esok hari. Ada proses panjang yang harus dilalui. Sama seperti puasa, yang mengajarkan untuk menunggu waktu berbuka dengan penuh kesabaran.

“Bertani itu seperti puasa. Harus sabar. Hasilnya tidak langsung,” tuturnya lirih.

Ia juga menaruh harapan besar pada panen tahun ini. Meski bekerja dengan tenaga terbatas selama Ramadan, ia berharap hasilnya tetap baik. Hasil panen akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, dan sedikit ditabung untuk keperluan mendesak.

Kepada generasi muda, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam. Menurutnya, bertani adalah pekerjaan mulia. Dari tangan petani, kebutuhan pangan banyak orang terpenuhi. Ia berharap anak-anak muda tidak gengsi turun ke sawah atau ladang.

“Kalau tidak ada petani, orang makan apa?” katanya dengan nada ringan namun penuh makna.

Baginya, Ramadan bukan bulan untuk memperlambat langkah, melainkan memperkuat niat. Ia percaya, bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh akan membawa keberkahan. Setiap ayunan cangkul, setiap benih yang ditanam, dan setiap tetes keringat menjadi bagian dari perjalanan ibadahnya.

Saat matahari mulai condong ke barat, ia menatap langit yang berubah jingga. Angin sore berembus lembut, membawa harapan baru. Hari itu kembali ia lalui dengan penuh kesabaran. Lapar dan haus mungkin menguras tenaga, tetapi tidak pernah mengurangi semangatnya.

Di ladang yang sederhana itu, Ramadan menemukan maknanya yang paling nyata: tentang keteguhan, tentang kerja keras, dan tentang keyakinan bahwa rezeki akan datang bagi mereka yang tidak berhenti berusaha.

Dan esok pagi, ketika fajar kembali menyingsing, ia akan kembali melangkah ke ladang yang sama menjaga tanaman, menjaga harapan, dan menjaga imannya.

Rekomendasi Berita