Munculnya Kecemasan Ditengah Kebahagiaan Lebaran
- 17 Mar 2026 00:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri atau yang dikenal dengan Lebaran adalah saat berkumpulnya sanak keluarga dan famili. Saat berkumpulnya anggota keluarga besar segala pembicaraan bisa terjadi mulai hal yang umum sampai hal yang bersifat pribadi.
Pada saat Lebaran ada kegembiraan bertemu keluarga, namun dengan interaksi, komunikasi dan berbagai pertanyaan justru bisa menimbulkan kecemasan bagi orang tertentu. Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya Margareta S.Psi, M.Sc, memaparkan adanya potensi kecemasan menjelang Lebaran meningkat.
Hal ini terjadi ketika pertanyaan keluarga dipersepsikan sebagai "ancaman" pribadi. “Stres memang hasil buah pikiran, tergantung bagaimana kita mempersepsikan faktor yang hadir,” tutur Margareta dalam perbincangan dengan RRI Pro-3, Senin 16 Maret 2026.
Ia menguraikan, pertanyaan tentang "kapan menikah?".... "kapan punya anak?", atau "...sudah kerja belum?" bisa memicu tekanan bila diterima sebagai ancaman sosial. “Kalimat yang sama bisa menimbulkan stres kalau kita melihatnya sebagai ancaman diri,” ujar Margareta.
Margareta berpendapat, akar kecemasan sering lebih kompleks, mencakup relasi keluarga, pengalaman gagal, serta kesiapan pribadi menerima stimulus sosial. “Bagi yang cemas tinggi, faktornya lebih kompleks daripada sekadar kata-kata yang tidak enak,” katanya.
Menurut Margareta, generasi muda menghadapi tantangan lebih berat, mulai persaingan kerja, tekanan ekonomi, hingga tuntutan sosial keluarga. “Orang yang lebih senior perlu empati, sebab tantangan hidup anak muda sekarang jauh lebih besar,” paparnya.
Margareta mengajurkan agar anggota keluarga mengganti pertanyaan-pertanyaan yang "menusuk" dengan pernyataan yang bersifat "mendukung", bukan menghakimi. “Mari kita jadikan rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman, satu sama lain,” ucap Margareta.
Wawancara RRI Pro-3 dengan psikolog Margareta berkaitan dengan laporan "Indonesia Health Insights" dari protal kesehatan "Halodoc". Laporan itu menyebutkan dinamika kesehatan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri tidak hanya terkait kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental.
Data tersebut mencatat gangguan kecemasan meningkat hingga 27% pada minggu ketiga Ramadan dibandingkan kondisi sebelum bulan puasa. Kondisi ini dipicu oleh tekanan sosial, persiapan mudik, serta dinamika keluarga menjelang hari raya.
Situasi psikologis tersebut juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang. Ketika tingkat stres meningkat, daya tahan tubuh dapat menurun sehingga memicu munculnya berbagai keluhan kesehatan.