Ketua Harian BISMA: Ramadan Bulan Suci Pererat Silaturahmi

  • 14 Mar 2026 13:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) John Palinggi, mengajak masyarakat mempererat silahturahmi di bulan Ramadan. "Ramadan sebagai bulan yang berkah hendaknya menjadi momentum interaksi sosial yang hangat antar umat beragama," kata John dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.

Menurutnya, Ramadan merupakan bulan suci yang akan membawa kehidupan umat manusia terutama umat Islam untuk menjadi lebih bersih. "Usai Ramadan, maka umat islam dapat menjadi pribadi yang lebih baik membangun persatuan dengan semua saudara yang lain," ujarnya.

Selain itu, Ramadan juga membawa kerukunan antar umat beragama dan rasa saling menghormati. Sehingga menciptakan harmonisasi dalam kehidupan berbangsa.

"Kerukunan bersama dalam rangka membangun diri sendiri, membangun keluarga. Sekaligus membangun masyarakat Indonesia yang harmonis," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, meski bangsa Indonesia memiliki perbedaan agama dan keyakinan, namun sejatinya bangsa Idonesia merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. "Dengan persaudaraan itu sekalipun kita beda, beda agama, tetapi kita sama-sama adalah ciptaan Allah SWT," ujarnya.

Oleh karena itu, menrutnya, sudah tidak perlu ada lagi pembicaraan mengenai mana agama yang terbaik. Hal itu lantaran keyakinan merupakan hal sakral dan suci.

"Siapa saja yang mencoba menghina-hina agama orang lain kan itu pidananya ada. Tentu itu juga kurang baik," ujarnya.

Dia mengatakan, sikap toletansi saling menghormati keyakinan orang sudah tertanam didalam masyarakat Indonesia. "Artinya kita biar apa, tapi pada tetaran itu saya katakan bahwa masalah keyakinan agama tidak usah lagi dimasalahkan," ucapnya.

Menurutnya, segala ajaran dalam agama adalah agar setiap umat memperbanyak kebaikan, terus-menerus lakukan kebaikan, dan berhentilah berbuat jahat. "Tebarkan kebaikan, jangan berbuat jahat. Hanya dua itu saja," ujarnya.

Oleh karena itu, yang terpenting saat ini adalah bagaimana menciptakan bangsa yang majemuk supaya rukun, damai, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Saling menerima perbedaan yang diistilahkan negara Bhinneka Tunggal Ika. Memang berbeda, tapi kita satu bangsa dan negara," ucapnya.

Rekomendasi Berita