Mengenal Malem Selikuran, Tradisi Lailatul Qadar di Keraton Yogyakarta
- 11 Mar 2026 13:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat Jawa memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah Malem Selikuran yang digelar di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Melansir laman kratonjogja.id, Malem Selikur, atau dikenal juga dengan Selikuran, diyakini telah ada sejak awal penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Tradisi ini diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai metode dakwah Islam yang disesuaikan dengan budaya Jawa.
Secara bahasa, selikur diartika sebagai "sing linuwih ing tafakur". "Tafakur" berarti usaha untuk mendekatkan diri pada Allah, sehingga "sing linuwih ing tafakur" dapat diartikan sebagai ajakan untuk lebih giat mendekatkan diri pada Allah.
Malem Selikuran merupakan tradisi yang dilakukan pada malam ke-21 Ramadan. Malam tersebut menandai dimulainya sepuluh malam terakhir Ramadan yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan 'tepas-tepas' dan "kawedanan-kawedanan' yang ada di Keraton Yogyakarta. Seluruh Abdi Dalem juga seluruh Abdi Dalem Punakawan Kaji dan Abdi Dalem juga hadir sebagai penanggung jawab kegiatan keagamaan di keraton.
Prosesi biasanya dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 185-186. Setelah itu dilanjutkan dengan zikir bersama yang dilakukan oleh para abdi dalem dan kerabat keraton sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Selain zikir dan pembacaan ayat suci, dalam tradisi ini juga disampaikan tausiah mengenai keutamaan malam Lailatul Qadar. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan Sultan, keluarga keraton, serta masyarakat Yogyakarta.
Saat waktu berbuka tiba, para abdi dalem akan menerima hidangan sederhana seperti teh manis dari Abdi Dalem Patehan. Setelah prosesi selesai, para peserta juga mendapatkan nasi berkat yang dibagikan sebagai sedekah dari keraton.
Tradisi Selikuran juga memiliki simbol spiritual. Di lingkungan keraton, lilin-lilin dinyalakan pada malam tersebut dan diletakkan di beberapa sudut kompleks kedhaton sebagai lambang pelita dan pengingat untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Melalui tradisi Malem Selikuran, Keraton Yogyakarta tidak hanya memperingati datangnya Lailatul Qadar. Tradisi ini juga menjadi cara untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih giat beribadah pada malam-malam terakhir Ramadan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....