Pendidik Spiritual di Lhokseumawe Soroti Pergeseran Minat Ibadah Umat Islam

  • 10 Mar 2026 18:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Umat Islam kini sedang memasuki fase sepuluh hari terakhir dalam bulan suci Ramadan 1447 H. Fenomena pergeseran minat ibadah Umat Islam menjadi sorotan utama bagi para pendidik spiritual di wilayah Lhokseumawe.

Musyrif Tahfidzul Qur’an SD IT Vinca Rosea Tahfizh International Lhokseumawe, Khairunnasri menyayangkan perubahan perilaku konsumtif menjelang hari raya. Ia mengatakan umat Islam mulai meninggalkan masjid demi mendatangi pusat perbelanjaan serta berbagai fasilitas transportasi umum lainnya.

“Bila kita menyaksikan euforia umat Islam yang berduyun-duyun ke masjid pada awal Ramadan. Sungguh ironis, di akhir Ramadan mereka justru berduyun-duyun ke pusat perbelanjaan dan berbagai moda transportasi,” ujar Khairunnasri di Lhokseumawe, Selasa, 10 Maret 2026.

Khairunnasri mengatakan masyarakat kini lebih memadati terminal bus dan bandara daripada menghidupkan malam dengan aktivitas itikaf. Kondisi tersebut mencerminkan adanya kehilangan makna spiritual mendalam pada periode paling krusial di akhir Ramadan.

Khairunnasri menjelaskan periode sepuluh malam terakhir merupakan waktu emas bagi jiwa yang rindu ampunan. Allah memberikan satu malam istimewa yang nilai kebaikannya melampaui seribu bulan bagi umat Nabi Muhammad.

“Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan,” kata Khairunnasri saat mengutip ayat suci Al-Qur'an surah Al Qadr.

Konversi penilaian amal pada malam tersebut setara dengan beribadah selama 83 tahun 3 bulan. Angka ini melebihi rata-rata jatah umur hidup umat manusia pada zaman akhir saat ini.

Keistimewaan luar biasa ini seharusnya menjadi motivasi utama bagi setiap Muslim untuk tetap bertahan di masjid. Namun realitas di lapangan menunjukkan potret buram terkait prioritas ibadah masyarakat yang mulai memudar.

“Pada titik ini, kita harus mengakui bahwa inilah potret dimana malam ampunan itu memang (tak) kita rindukan. Potret buram umat akhir zaman yang menjadi fitnah bagi mereka yang menerapkan amal dan ilmu sebagai sebuah keniscayaan,” ucap Khairunnasri.

Khairunnasri menyatakan perilaku mengejar kebutuhan duniawi secara berlebihan tidak pernah diajarkan oleh sosok teladan Nabi Muhammad. Ia menyebut Umat Islam telah salah dalam membaca peta arah tujuan utama agama yang penuh ampunan.

Pergeseran gerakan menuju pusat keramaian menjadi bukti nyata bahwa malam pengampunan mulai kehilangan daya tariknya. Jiwa-jiwa manusia cenderung lebih tergiur pada persiapan fisik menyambut lebaran daripada memupuk pahala akhirat.

Khairunnasri mengajak seluruh Umat Islam untuk segera kembali ke jalur spiritual yang benar. Kesadaran akan janji rida Tuhan harus menjadi fondasi utama dalam menjalani sisa waktu Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....