Nuzulul Qur'an Menghidupkan Kembali Spirit Wahyu Ramadan

  • 07 Mar 2026 08:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Peringatan Nuzulul Qur'an kembali mengingatkan umat Islam pada turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa bersejarah itu menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam di dunia.

Wahyu pertama turun di Gua Hira saat Nabi Muhammad sedang merenungkan nasib umat manusia. Malaikat Jibril datang membawa perintah singkat namun penuh makna, yakni “Iqra” atau bacalah.

Perintah membaca tersebut menjadi awal turunnya Al-Qur’an sekaligus inspirasi kebangkitan ilmu pengetahuan. Wahyu pertama tidak langsung berbicara tentang hukum ataupun ritual ibadah.

Al-Qur’an justru mengawali risalahnya dengan dorongan membaca, belajar, dan mencari pengetahuan. Hal ini menegaskan pentingnya ilmu sebagai fondasi utama peradaban manusia.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis Muhammad Hanafi menekankan makna penting perintah Iqra. Ia menyebut perintah itu bukan sekadar membaca teks.

Menurutnya, membaca juga berarti merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.“Iqra adalah membaca kehidupan, membaca alam semesta, dan membaca sejarah manusia,” ujarnya dalam Syiar Ramadan Imsakiyah Pro3 RRI, Sabtu, 7 Maret 2026.

Selain itu, lanjut dia, Al-Qur’an mengajak manusia berpikir dan meneliti ciptaan Tuhan. Hal tersebut tercermin dalam firman Allah pada Al-Qur'an, khususnya Surah Ali Imran ayat 190.

Ayat tersebut menyebut penciptaan langit dan bumi sebagai tanda bagi orang berakal. Pesan itu menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah, peradaban Islam pernah menjadi pusat perkembangan ilmu dunia. Banyak ilmuwan Muslim memberikan kontribusi besar bagi kemajuan sains.

Ia mencontohkan, tokoh seperti Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi dikenal sebagai pelopor ilmu aljabar. Selain itu, ada Ibn Sina yang karya kedokterannya dipelajari selama berabad-abad.

Di bidang optik, dunia juga mengenal Ibn al-Haytham sebagai perintis ilmu cahaya modern. Semua pencapaian itu lahir dari semangat membaca dan meneliti.

Namun, umat Islam kini diajak merenungkan kembali apakah semangat tersebut masih hidup. Banyak yang membaca Al-Qur’an tetapi belum sepenuhnya memahami pesan peradabannya.

"Padahal Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dibaca sebagai ibadah. Kitab suci itu juga menjadi pedoman membangun peradaban berbasis ilmu," katanya, menjelaskan.

Di era modern, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan, bioteknologi, dan eksplorasi ruang angkasa berkembang pesat.

Karena itu, spirit Iqra perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan umat Islam. Semangat mencintai ilmu dan menghargai penelitian harus terus ditumbuhkan.

“Iqra berarti menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah kepada Allah. Sehingga ilmu harus berjalan seimbang dengan iman dan nilai moral," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....