Kesadaran Bertaubat dan Memaafkan Jadi Kunci Kehidupan Manusia
- 07 Mar 2026 02:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendakwah dari Lhokseumawe, Aceh, Ustadz Khairunasri, mengingatkan pentingnya kesadaran bertaubat dalam kehidupan. Menurutnya, manusia pasti pernah melakukan kesalahan selama menjalani kehidupan.
Ia menjelaskan, setiap manusia akan menghadapi dua kondisi dalam hidup. Pertama melakukan kesalahan, kedua menghadapi kesalahan orang lain terhadap dirinya.
Kesalahan tersebut bisa terjadi secara sengaja maupun tidak disengaja. Kondisi ini merupakan hal wajar yang selalu hadir dalam kehidupan manusia.
Menurutnya, keberadaan kesalahan justru menunjukkan kesempurnaan penciptaan manusia. Hal itu karena manusia memiliki potensi salah sekaligus kesempatan untuk memperbaikinya.
Penjelasan tersebut diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Darimi.
“Kullu bani Adam khatta’, wa khairul khatta’in at-tawwabun. Artinya, setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baiknya yang salah adalah yang bertaubat," kata dia mengutip hadis tersebut dalam syiar Ramadan jelang berbuka Pro3 RRI, Jumat, 6 Maret 2026.
Menurutnya, taubat menjadi kunci utama memperbaiki kesalahan manusia. “Siapa pun kita pasti pernah berbuat salah, yang terbaik adalah mereka yang mau bertaubat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, malaikat tidak dinilai sempurna seperti manusia karena tidak memiliki hawa nafsu. Malaikat juga tidak pernah melakukan kesalahan dalam ketaatan kepada Allah.
Sementara itu, iblis dan keturunannya juga tidak dianggap sempurna. Hal itu karena iblis menolak bertaubat setelah melakukan kesalahan.
Adapun, manusia berada di antara dua makhluk tersebut. Terkadang manusia bisa lebih baik dari malaikat, namun juga bisa lebih buruk dari iblis.
Karena itu, kesadaran meminta maaf dan memberi maaf menjadi hal penting. Sikap tersebut menjadi tanda kedewasaan dan kemuliaan akhlak seseorang.
Secara psikologis, memaafkan tidak berarti membenarkan kesalahan orang lain. Namun memaafkan merupakan cara berdamai dengan diri sendiri.
Menurut Ustadz Khairunasri, puncak akhlak terlihat ketika seseorang mampu memaafkan lebih dulu. Bahkan sebelum permintaan maaf disampaikan oleh pihak yang bersalah.
Ia juga menilai bangsa membutuhkan pribadi-pribadi pemaaf dalam kehidupan sosial. Sosok tersebut mampu menebarkan empati, kedamaian, dan sikap santun.
Ia mengatakan, sikap pemaaf merupakan tanda puncak akhlak mulia.“Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....