Khidmatnya Suru Maca, Tradisi Doa Bersama di Sulawesi Selatan

  • 26 Feb 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Makassar - Sebelum memasuki bulan suci Ramadan, masyarakat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan menjalankan tradisi Suru Maca. Tradisi ini digelar sebagai bentuk menyambut Ramadan dengan bacaan doa bersama dan momen kebersamaan dengan keluarga.

Suru Maca berasal dari kata "suru" yang berarti meminta dan "maca" yang berarti membaca doa. Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu sebelum Ramadan tiba.

Warga menyiapkan makanan khas Bugis-Makassar seperti nasi ketan dua warna, ayam goreng, dan kue tradisional sebagai sajian upacara. Makanan ini nantinya ditempatkan di lantai atau di atas ranjang tidur kemudian dikelilingi oleh anggota keluarga dan tetangga.

Prosesi Suru Maca akan dipimpin oleh tokoh agama atau guru yang disebut 'panrita' yang dianggap ahli membaca doa dan ayat Al-Qur’an. Doa yang dibacakan ditujukan kepada leluhur yang telah meninggal serta memohon keselamatan selama Ramadan.

Setelah doa bersama selesai, seluruh hidangan yang telah didoakan kemudian disantap bersama. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk saling berbagi berkah dan mempererat tali silaturahmi.

Suru Maca memainkan peran penting dalam memperkuat solidaritas komunitas dan menjaga identitas budaya lokal Bugis-Makassar. Tradisi ini juga menjadi wadah ekspresi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Selain Suru Maca, beberapa komunitas juga melanjutkan tradisi dengan ziarah ke makam keluarga atau tokoh penting setelah menjalankan ritual doa. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum Ramadan.

Tradisi Suru Maca hingga kini masih lestari di berbagai wilayah pedesaan Sulawesi Selatan. Masyarakat setempat masih berupaya menjaga tradisi budaya ini secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....