Puasa Setengah Hari Anak saat Ramadan, Begini Penjelasannya

  • 26 Feb 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap bulan Ramadan, pemandangan anak-anak yang berpuasa setengah hari menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Dari pagi hingga menjelang siang, mereka belajar menahan lapar dan haus sebagai bagian dari proses mengenal ibadah puasa.

Tradisi ini pun kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah puasa setengah hari memiliki landasan dalam ajaran Islam, atau hanya sebatas kebiasaan turun-temurun sebagai metode latihan anak.

Dikutip dari NU Online Jakarta, Nyai Hj Chodijah memberikan penjelasan. Ia menyampaikan praktik tersebut merupakan bentuk pendidikan bagi anak yang belum baligh.

Menurutnya, anak usia empat atau lima tahun masih tahap latihan. Puasa bisa dimulai dari Subuh hingga pukul 10 atau sampai Zuhur sesuai kemampuan anak.

Puasa setengah hari, kata dia, bukan kewajiban syariat. Hal itu merupakan metode tarbiyah atau pembiasaan yang berkembang di masyarakat.

“Pada usia tujuh tahun, anak mulai dibiasakan berpuasa penuh sehari, meskipun tetap dalam konteks latihan karena belum baligh," katanya

Nyai Hj Chodijah menegaskan peran orang tua sangat penting dalam membangun semangat anak. Orang tua perlu menghadirkan suasana Ramadan yang hangat dan menyenangkan.

Ia menambahkan, anak perlu memahami makna puasa sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, latihan puasa tidak hanya soal menahan lapar, tetapi juga pembentukan nilai spiritual.

Anak dianjurkan dilibatkan dalam sahur, berbuka, hingga salat tarawih bersama. Pujian atau hadiah kecil juga bisa diberikan sebagai bentuk motivasi.

“Yang terpenting, anak memahami makna puasa sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga harus lebih sering dilibatkan dalam sahur, berbuka, tarawih," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....