Prediksi Cuaca Lebaran 2026, Waspada Daerah Ini

  • 21 Feb 2026 10:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi cuaca dan iklim selama periode Idulfitri 1447 H. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebut saat ini Indonesia masih ada di periode musim hujan.

Ia menyampaikan bahwa potensi curah hujan tinggi hingga banjir rob masih mengintai. Ia menyebut cuaca Lebaran 2026 akan dipengaruhi oleh berbagai fenomena seperti masih aktifnya Monsun Asia, dan Madden-Julian Oscillation (MJO).

"Yang pertama perlu kami sampaikan bahwa saat ini kita masih berada di puncak musim hujan pada Januari-Februari, kemudian akan melandai. Namun hujan dengan intensitas tinggi ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia," katanya dikutip dari laman BMKG, Jumat, 20 Februari 2026.

  • Prediksi Cuaca Lebaran 2026: Hujan Lebat di Daerah-daerah Ini

Pada masa Lebaran, ada tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman atau mudik. Perlu diperhatikan, pada periode mudik Lebaran, beberapa daerah diprediksi punya potensi curah hujan tinggi.

Daerah yang masih dalam kategori berpotensi hujan lebat selama Februari 2026. Yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Sementara pada puncak Lebaran 2026 yakni sekitar Maret, hujan dengan curah menengah hingga tinggi. Berpotensi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.

  • Curah Hujan Meningkat pada Periode Ini

Ia juga mengingatkan adanya potensi peningkatan curah hujan pada minggu ke-4 Februari hingga minggu ke-2 Maret 2026. Berikut perkiraan BMKG tentang cuaca selama Maret 2026:

  1. 1-10 Maret 2026: Hujan ringan hingga sedang masih dominan, dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua.
  2. 11-20 Maret dan 21-30 Maret 2026: Cuaca didominasi hujan ringan hingga sedang.
    Ada Pembentukan Awan Cumulonimbus
    Masih pada Maret 2026, BMKG mengingatkan potensi tumbuhnya awan Cumulonimbus (CB).

Awan ini perlu diwaspadai di daerah Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara. Keberadaannya dapat berpengaruh pada turbulensi selama penerbangan, badai guntur, wind gust (embusan angin kencang mendadak). Hingga wind shear di sekitar area bandara.

Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG dalam unggahan @aviationbmkg menjelaskan, wind shear adalah perubahan mendadak kecepatan. Perihal ini, arah angin dalam jarak sangat pendek, baik horizontal maupun vertikal.

Fenomena ini dapat mengubah kecepatan udara, ketinggian, gaya angkat, dan sumbu rotasi pesawat (pitch) secara mendadak. Wind shear berisiko menyebabkan pendaratan keras, pesawat tergelincir dari landasan, atau kecelakaan serius dalam kasus yang parah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....