Alasan Kolak Pisang jadi Takjil Favorit di Bulan Ramadan

  • 18 Feb 2026 16:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kolak menjadi hidangan manis yang identik dengan Ramadan di Indonesia. Menu manis berbahan dasar santan dan gula ini menjadi salah satu takjil favorit untuk berbuka puasa.

Alasannya, karena kolak mudah dibuat, bahannya terjangkau, dan bisa disajikan dalam jumlah besar untuk keluarga maupun pembagian takjil di masjid. Tradisi berbagi kolak di lingkungan masyarakat memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan selama Ramadan.

Secara umum, kolak berisi bahan-bahan seperti pisang kepok atau raja, ubi jalar, labu kuning, kolang-kaling, santan, gula merah dan daun pandan. Di beberapa daerah, kolak juga ditambahkan biji salak, kacang hijau, atau tape singkong.

Mulanya, kolak berkembang di wilayah Jawa dan Betawi sejak masa penyebaran Islam oleh para wali. Kata “kolak” diduga berasal dari istilah Arab 'khalaqa' (mencipta) atau 'khalaq' (akhlak).

Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan kuliner, tetapi memiliki akar sejarah, budaya, dan makna. Kemudian diasosiasikan dengan ajakan memperbaiki diri selama Ramadan.

Dalam tradisi dakwah Wali Songo, makanan sering dijadikan media pendekatan budaya. Kolak yang bercita rasa manis dianggap simbol harapan agar umat memperbaiki akhlak dan kembali pada fitrah selama bulan suci.

Kombinasi sejarah dakwah, nilai budaya, serta manfaat energi cepat inilah yang membuat kolak bertahan sebagai takjil favorit lintas generasi. Dengan cita rasa yang sederhana namun sarat makna, kolak menjadi bagian dari identitas kuliner khas Ramadan di Indonesia.

Dari sisi gizi, makanan manis seperti kolak memang dianjurkan untuk berbuka dalam jumlah secukupnya. Gula alami dari gula aren dan karbohidrat dari pisang atau ubi membantu menaikkan kadar gula darah secara bertahap.

Pisang dan ubi juga mengandung serat, kalium, serta vitamin yang membantu pemulihan energi. Sementara santan memberikan rasa kenyang lebih lama karena kandungan lemaknya.

Meski demikian, konsumsi tetap dianjurkan tidak berlebihan. Karena kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....