Asal-usul Kolak, Media Dakwah Para Wali Songo
- 11 Feb 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kolak dikenal sebagai salah satu hidangan manis yang paling identik dengan bulan Ramadan di Indonesia. Ternyata dibalik rasanya yang sederhana, kolak menyimpan makna filosofis yang berkaitan dengan strategi dakwah Wali Songo di tanah Jawa.
Hidangan ini dipercaya merefleksikan cara Wali Songo menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan yang lembut dan penuh penyesuaian budaya. Kolak tidak sekadar berfungsi sebagai makanan berbuka puasa, tetapi juga menjadi simbol proses Islamisasi yang berlangsung secara damai.
Wali Songo, sembilan tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, dikenal dengan metode dakwah yang lembut. Mereka memilih menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi yang telah melekat di masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, kolak dijadikan media penyampaian nilai-nilai keislaman. Makanan yang sudah akrab di masyarakat Jawa ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan ajaran baru tanpa menimbulkan penolakan.
Secara etimologis, nama kolak diyakini berasal dari kata Arab khalaq yang berarti mencipta atau pencipta. Makna ini mengajak masyarakat untuk selalu mengingat Allah SWT.
Ada pula tafsir lain yang mengaitkan kolak dengan kata khala, yang bermakna kosong. Tafsir ini mengandung pesan agar manusia membersihkan diri dari dosa dan memperbaiki diri, terutama di bulan Ramadan.
Dari sisi bahan, kolak dibuat dari hasil alam lokal seperti pisang, ubi jalar, kolang-kaling, dan santan. Pemilihan bahan ini menunjukkan kemampuan Wali Songo dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya dan selera masyarakat setempat.
Penggunaan santan juga memiliki makna simbolis. Dalam bahasa Jawa, santan sering dikaitkan dengan kata pangapunten atau permohonan maaf, yang sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya saling memaafkan.
Rasa manis pada kolak pun memiliki pesan tersendiri. Islam menganjurkan berbuka puasa dengan makanan manis, yang kemudian diselaraskan dengan kebiasaan masyarakat Jawa agar lebih mudah diterima.
Melalui kolak, nilai-nilai Islam diperkenalkan secara perlahan dan menyenangkan. Cara ini membuat masyarakat tidak merasa asing, sekaligus menumbuhkan rasa kebahagiaan dan harapan.
Keberadaan kolak menjadi bukti bahwa dakwah tidak harus dilakukan dengan cara keras atau konfrontatif. Pendekatan budaya justru mampu mempercepat penerimaan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....