Sedekah Sepatu Berbagi di Pelosok Purbalingga

  • 02 Nov 2025 18:34 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purbalimgga: Di bulan yang identik dengan semangat kepahlawanan, sekelompok relawan Sedekah Sepatu kembali menapaki jalan perjuangan. Minggu (2/11/2025), mereka menembus jalan berbatu dan tanjakan licin menuju SD Negeri 2 Karangbawang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

Di sekolah dasar di perbatasan antara Purbalingga dan Banjarnegara.

Perjalanan menuju sekolah itu bukan perkara mudah. Mobil relawan beberapa kali harus berhenti karena medan menanjak dan jalan licin usai diguyur hujan.

Di sisi kiri dan kanan, kebun kopi, kapulaga, serta tebing terjal menjadi saksi langkah mereka mengantarkan puluhan pasang sepatu untuk anak-anak di pelosok desa.

Setibanya di sekolah, mata para relawan disambut pemandangan yang menggetarkan hati. Beberapa anak berdiri rapi di halaman sekolah dengan sepatu lusuh ada yang solnya terkelupas, ada pula yang bagian depannya terbuka hingga jari-jari kecil mereka tampak dari luar. Namun senyum mereka tetap merekah, hangat, dan tulus.

“Sebagian besar anak-anak di sini berjalan kaki sekitar satu kilometer dari Dusun Sapunagara setiap pagi. Banyak yang sepatu lamanya sudah tidak layak pakai,” tutur Messi, guru PPPK di SDN 2 Karangbawang.

Sekolah ini menampung 67 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Meski sarana terbatas, semangat belajar mereka luar biasa. Salah satu siswi kelas 6, Sela Maytilawati, bahkan pernah menjuarai lomba tari tingkat kabupaten. Prestasi lain juga diraih melalui lomba mengetik bahasa Arab serta kegiatan non akademik lainnya.

Pendiri Sedekah Sepatu, Yuspita Palupi, mengungkapkan bahwa penyaluran kali ini memang difokuskan di wilayah terpencil sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak yang tetap bersemangat menempuh pendidikan di tengah keterbatasan.

“Kami ingin hadir bukan hanya membawa sepatu, tapi juga membawa harapan. Anak-anak di pelosok ini berhak bermimpi setinggi langit. Kami ingin mereka tahu bahwa ada yang peduli, ada yang mendukung langkah kecil mereka menuju masa depan,” ujarnya haru.

Suasana berubah haru saat anak-anak mencoba sepatu baru mereka satu per satu. Beberapa memandangi sepatu itu dengan tatapan tak percaya, lalu melangkah kecil di halaman tanah yang lembab seolah memastikan bahwa sepatu itu benar-benar milik mereka.

Dari pelosok Karangbawang, sepasang sepatu sederhana menjadi simbol harapan.

Rekomendasi Berita